Jumat Barokah, Nasihat Haji Rasyidi HY: Bencana Harus Dimaknai sebagai Ujian dan Momentum Introspeksi

SATYABERITA – Belakangan ini berbagai bencana alam melanda Indonesia, mulai dari gunung meletus, banjir bandang hingga tanah longsor, perlu dihadapi dengan sikap bijak dan penuh ketabahan.
Dalam perspektif Islam, bencana tidak semata-mata dipandang sebagai musibah, tetapi juga dapat menjadi ujian sekaligus momentum untuk mengambil hikmah.
Hal itu disampaikan Kepala Divisi Pengkajian dan Pendidikan Jakarta Islamic Centre (JIC), Dr. Ir. H. Rasyidi HY, yang mengingatkan pentingnya membangun pemahaman dan sikap yang tepat dalam menghadapi bencana.
Menurut Haji Rasyidi HY, Islam memberikan pedoman dalam memaknai setiap peristiwa yang terjadi dalam kehidupan manusia, termasuk bencana.
Sikap manusia dalam merespons musibah akan turut menentukan langkah yang diambil setelah bencana berlalu.
“Bencana merupakan bagian dari takdir Allah SWT, sekaligus ujian dan cobaan bagi manusia,” ujar Rasyidi, dalam keterangan tertulisnya, Jumat (11/9/2026).
Lebih lanjut mantan anggota DPRD DKI Jakarta periode 2014-2019 ini mengatakan, merujuk pada Al-Qur’an Surat Al-Hadid ayat 22 yang menjelaskan bahwa setiap musibah yang terjadi telah berada dalam ketetapan Allah SWT.
“Manusia dianjurkan tidak hanya larut dalam kesedihan, tetapi juga mengambil pelajaran dari setiap peristiwa,” kata Haji Rasyidi HY yang duduk sebagai Wakil Ketua Komisi C saat di DPRD DKI ini.
Haji Rasyidi HY juga mengutip Surat Al-Baqarah ayat 155-156 yang mengajarkan pentingnya kesabaran ketika menghadapi ketakutan, kekurangan harta maupun kehilangan jiwa.
Menurutnya, kesabaran, keteguhan hati dan tawakal merupakan sikap penting bagi seorang muslim ketika menghadapi musibah.
“Bencana juga menjadi pengingat bahwa manusia memiliki keterbatasan. Sebesar apa pun kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, manusia tetap makhluk yang lemah dan membutuhkan pertolongan Allah,” jelasnya.
Karena itu, Haji Rasyidi HY mengajak masyarakat untuk menghadapi bencana dengan sabar, bersyukur, bertawakal, serta meningkatkan kepedulian terhadap sesama.
“Jadi dengan memahami bencana sebagai ujian dan pengingat akan keterbatasan manusia, kita diharapkan mampu menjadi lebih kuat, bijaksana, dan penuh rasa syukur dalam menghadapi setiap cobaan,” pungkasnya.

Post Comment