Seniman Kepulauan Riau Unjuk Kebolehan di Panggung Etno Island, Taman Ismail Marzuki

SATYABERITA – Adi Lingkepin, seniman Kepulauan Riau yang bernama lengkap Supriyadi Hasanin sukses mempresentasikan karya berjudul Progressive Makyong di panggung Etno Island.
Karya yang berbentuk instrumental biola ini merupakan hasil komodifikasi dari repertoar musik iringan teater Makyong Bintan, Kepulauan Riau.
Etno Island merupakan perhelatan yang ditata oleh Program Studi Etnomusikologi, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Kesenian Jakarta (IKJ).
Gelaran ini dilaksanakan pada 24–25 Agustus 2026 di Teater Wahyu Sihombing, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, dengan mengusung tema besar “Resonansi Musik Tradisi Nusantara dalam Bingkai Academic”.
Acara ini turut dihadiri oleh para pakar lintas Asia Tenggara yang berbagi pengetahuan seputar etnomusikologi, di antaranya Franky Raden, Prof. Dr. Mohd Anis Md Nor (Malaysia), Jabatin Bangun, dan Nyak Ina Raseuki (Ubiet).
Selain menjadi ruang akademik, Etno Island juga digelar sebagai bentuk apresiasi kepada para maestro praktisi dan pencipta alat musik tradisi, seperti Rizaldi Siagian, Endo Suwanda, Uwak Ukar, serta Oen Sin Yang (Mpek Goyong).
Langkah Adi mengangkat materi ini dinilai sangat strategis serta sarat nilai sejarah dan budaya. Teater Makyong bukan sekedar kesenian lokal biasa, melainkan tradisi lisan yang tercatat sebagai warisan budaya takbenda dunia yang kepemilikannya melintasi tiga negara serumpun, yaitu Indonesia, Malaysia, dan Thailand.
Di Indonesia sendiri, teater Makyong telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak benda (WBTB) Indonesia, dengan pusat perkembangan utamanya berada di Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau.
Melalui penampilan solonya, Adi Lingkepin berhasil menyedot perhatian pandangan mata yang memadati ruang teater wahyu sihombing.
Di tangan Adi, dawai-dawai biola tidak sekadar berbunyi. Instrumen barat tersebut bertransformasi menjadi media baru yang menyuarakan spirit lokalitas Melayu Kepulauan Riau ke ranah kontemporer.
Komodifikasi ke arah populer yang diusung Adi tetap menjaga roh asli musik pengiring Makyong Bintan, seperti pola ritme dan cengkok rebab yang dipindahkan ke anatomi biola lewat gaya grenek khas Melayu.
Namun, ia menyuntikkan struktur harmonisasi modern dan sentuhan progresif, sehingga musik tradisional ini terdengar lebih segar, relevan, serta ramah di telinga generasi muda.
Tak heran jika karya “Progresif Makyong” mendapat sambutan hangat.
Sejak dirilis pada tahun 2013, karya ini juga telah ditampilkan oleh Adi Lingkepin di Monash University, Australia, pada 2015. Karya tersebut kemudian disempurnakan menjadi versi full vocal dan masuk ke dalam salah satu trek album Sedayoung Kepri (2017) karya Samudra Ensemble, band kontemporer yang dikomandani oleh Adi sendiri.
Kini Progresif Makyong juga tidak asing terdengar di Kepulauan Riau ,karena telah menjadi backsound Video Profil Kepulauan Riau sejak tahun 2024 .
Selain mempresentasikan karya monumentalnya tersebut, Adi Lingkepin juga menerima apresiasi tinggi dari pihak Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Penghargaan ini diberikan atas dedikasi luar biasa dalam merawat dan menghidupkan musik tradisi Indonesia.
Dengan dilatar belakangi konsistensi prestasi, serta deretan karya nyata yang ia lahirkan selama ini menjadi teladan penting dalam dunia seni pertunjukan tanah air, khususnya generasi muda di daerah. Presentasi impresif ini menjadi bukti nyata dari tema festival—bagaimana musik tradisi mampu beresonansi kuat dan menemukan bentuk baru yang dinamis saat dikaji serta dikembangkan dalam bingkai akademik.
Sejatinya, bingkai akademik bukan merupakan batasan untuk mengurung atau membelenggu kreativitas seniman, melainkan lebih tepatnya hadir untuk mengawal dan mengarahkan proses inovasi tersebut agar tetap berpijak pada akar tradisinya yang kuat.
Panggung Etno Island IKJ 2026 berhasil membuktikan bahwa musik tradisi Melayu, khususnya Kepulauan Riau, memiliki daya hidup yang tinggi untuk bersanding dalam ekosistem musik dunia (world music).
Lewat “Progressive Makyong”, Adi Lingkepin tidak hanya menghibur, tetapi juga menegaskan pentingnya pelestarian warisan budaya melalui jalur kreativitas tanpa batas yang terukur secara ilmiah. Langkah visioner ini sejalan dengan kesibukan Adi yang memiliki nama asli Supriyadi Hasanin yang saat ini tengah menimba ilmu di Program Studi Etnomusikologi Institut Kesenian Jakarta (IKJ) .
Post Comment