Jelang 5 Abad, Bang Eki Pitung Usul MUI DKI Gunakan Tegline ‘JAKARTA KOTA GLOBAL YANG RELIGIUS DAN BERADAB’

SATYABERITA – Menyongsong usia 500 tahun atau lima abad Kota Jakarta, Anggota Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) DKI Jakarta, Ustaz M. Rifqi alias Bang Eki Pitung, mengusulkan agar MUI DKI Jakarta memiliki tagline khusus sebagai pijakan moral dan keagamaan dalam mengawal Jakarta menuju kota global.
Tagline yang diusulkan Bang Eki Pitung adalah “Jakarta Kota Global yang Religius dan Beradab.”
Menurutnya, tagline tersebut penting sebagai rambu-rambu bersama agar transformasi Jakarta menjadi kota global tidak hanya berorientasi pada kemajuan bisnis, ekonomi, teknologi, dan budaya, tetapi juga tetap menjunjung tinggi nilai agama, akhlak, dan adab masyarakat.
“Jakarta akan menuju kota global dan internasional. Jangan sampai arus bisnis, ekonomi, teknologi, bahkan budaya asing membuat nilai agama, akhlak, dan moral masyarakat semakin terpinggirkan,” ujar Bang Eki Pitung, dalam keterangannya, Rabu (19/8/2026)
Ia menilai, perkembangan zaman yang sangat cepat, khususnya di tengah generasi muda, perlu menjadi perhatian bersama. Kemajuan teknologi digital dan derasnya arus informasi dinilai telah membawa perubahan terhadap cara masyarakat berinteraksi, berpikir, dan menerima berbagai nilai dari luar.
Bang Eki Pitung menyoroti fenomena sebagian generasi muda yang mulai menganggap agama sebagai sesuatu yang tidak terlalu penting dalam kehidupan sehari-hari.
“Ini yang menjadi kekhawatiran kita. Ada kelompok generasi muda yang mulai menganggap agama itu tidak terlalu penting dan dijalani secara santai saja. Karena itu, MUI harus progresif dan peka melihat tantangan ke depan,” katanya.
Menurutnya, MUI DKI Jakarta memiliki posisi strategis sebagai salah satu pintu masuk dalam menjaga nilai-nilai keagamaan, akhlak, dan moral umat di tengah perubahan Jakarta menuju kota global.
Ia berharap tagline “Jakarta Kota Global yang Tetap Religius dan Beradab” dapat menjadi semangat bersama bagi umat Islam maupun masyarakat Jakarta yang memeluk agama lainnya.
“Harapannya, slogan ini bisa menjadi rambu-rambu kita semua, umat Islam dan umat beragama di Jakarta. Jakarta boleh menjadi kota global, tetapi harus tetap religius dan beradab,” ujarnya.
Selain arus globalisasi, Bang Eki Pitung juga menyoroti perkembangan teknologi digital yang semakin tidak terbendung. Kehadiran berbagai platform media sosial seperti TikTok dan YouTube, menurutnya, membuat penyebaran informasi berlangsung sangat cepat.
Berbagai video dapat direkam dan diunggah dalam hitungan detik, kemudian menyebar luas kepada masyarakat. Kondisi tersebut, kata dia, perlu diimbangi dengan kemampuan masyarakat dalam menyaring informasi.
Pasalnya, tidak seluruh konten yang beredar merupakan informasi yang benar. Sebagian konten dapat berupa provokasi, rekayasa, maupun informasi yang berpotensi memecah belah masyarakat.
“Teknologi digital tidak bisa kita hentikan. Setiap detik ada video yang direkam dan diunggah ke berbagai akun. Persoalannya, apakah itu realita, provokasi, atau bahkan rekayasa yang bertujuan memecah belah umat dan mengadu domba masyarakat,” jelasnya.

Karena itu, ia mendorong MUI DKI Jakarta untuk semakin adaptif dalam menghadapi perkembangan teknologi dan perubahan sosial. Menurutnya, menjaga akhlak dan adab di era digital membutuhkan pendekatan yang lebih progresif serta sesuai dengan perkembangan zaman.
Gagasan tersebut disampaikan dalam rangkaian Musyawarah Kerja Daerah (MUKERDA) MUI DKI Jakarta yang berlangsung selama dua hari di Hotel Grand Santika, Jalan Hayam Wuruk, Jakarta Pusat.
Kegiatan tersebut dihadiri sejumlah unsur pemerintahan dan tokoh organisasi, antara lain Ketua DPRD DKI Jakarta Dr. Suhud, Ketua KADIN Nasional Nadia, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi DKI Jakarta, para pengurus MUI dari lima wilayah administrasi DKI Jakarta, serta Dewan Pertimbangan MUI DKI Jakarta.
Bang Eki Pitung berharap MUKERDA MUI DKI Jakarta tidak hanya menjadi forum untuk membahas program kerja organisasi, tetapi juga menjadi momentum untuk merumuskan visi keagamaan yang mampu menjawab tantangan Jakarta di masa depan.
Menurutnya, menyambut lima abad Jakarta harus diiringi dengan kesiapan moral dan spiritual masyarakat.
“Jakarta menuju lima abad harus maju secara ekonomi dan teknologi, tetapi jangan kehilangan jati diri. Kemajuan harus berjalan bersama agama, akhlak, moral, dan adab,” pungkas Bang Eki Pitung.
Post Comment