Nasihat Haji Rasyidi HY: Jangan Jadikan Takdir Alasan Berhenti Berusaha, Doa dan Ikhtiar Harus Berjalan Bersama

Breaking

Nasihat Haji Rasyidi HY: Jangan Jadikan Takdir Alasan Berhenti Berusaha, Doa dan Ikhtiar Harus Berjalan Bersama

SATYABERITA – Perdebatan mengenai hubungan takdir dan doa kerap memunculkan pertanyaan, “Kalau takdir sudah ditentukan Tuhan, untuk apa kita berdoa?” Menurut Kepala Divisi Pengkajian dan Pendidikan Jakarta Islamic Centre (JIC), Dr. Ir. H. Rasyidi HY, SH., SH.I., MM., MA., CPA, C.Med., pertanyaan tersebut justru perlu dibalik: mengapa manusia memilih untuk tidak berdoa?

Rasyidi menjelaskan, persoalan takdir bukan sekadar diskusi teologis, tetapi menyangkut cara pandang manusia terhadap kehidupan. Kesalahan yang paling sering terjadi, katanya, adalah menjadikan takdir sebagai alasan untuk tidak mengubah keadaan.

“Takdir hanya bisa dipahami setelah suatu peristiwa terjadi, bukan sebelum terjadi. Masa depan belum diketahui manusia, sehingga tidak bisa dijadikan alasan untuk berhenti berikhtiar,” ujar Haji Rasyidi HY dalam keterangan tertulis, Jumat (24/7/2026).

Ia mencontohkan seseorang yang bertahun-tahun bekerja di posisi yang sama lalu menganggap kondisinya sebagai takdir. Padahal, menurutnya, yang merupakan takdir adalah diterimanya pekerjaan tersebut di masa lalu, sedangkan keputusan untuk tetap bertahan tanpa upaya berubah merupakan pilihan manusia.

Lebih lanjut mantan anggota DPRD DKI Jakarta periode 2014-2019 ini mengatakan, takdir juga terbagi dua yakni takdir mubram dan takdir muallaq.

Menurut Haji Rasyidi HY, takdir mubram adalah ketentuan mutlak dari Allah SWT yang pasti berlaku dan manusia tidak diberi peran untuk mewujudkannya.

“Takdir mubram adalah kelahiran, kematian manusia, jodoh, hingga hari kiamat. Sebab, tidak ada manusia yang mengetahui kapan seseorang akan lahir maupun mati. Sehingga itu hanya menjadi rahasia milik Allah SWT,” jelas Haji Rasyidi HY.

Sementara takdir muallaq kata Haji Rasyidi HY, merupakan ketentuan Allah SWT yang mengikuti sertakan peran manusia melalui usaha atau ikhitiar.

“Contoh takdir muallaq adalah keberhasilan anak sekolah meraih prestasi dengan giat belajar,” katanya.

Haji Rasyidi HY menegaskan, Al-Qur’an juga mengingatkan agar manusia tidak menjadikan keadaan sebagai alasan untuk pasif. Ia mengutip QS. An-Nisa ayat 97, yang mengisahkan teguran malaikat kepada orang-orang yang mengaku tertindas namun tidak berusaha mencari jalan keluar. Dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa orang yang mampu berubah tetapi memilih diam termasuk menzalimi dirinya sendiri.

Ia menjelaskan bahwa dalam sejarah pemikiran Islam terdapat dua pandangan ekstrem tentang takdir, yakni Jabariyyah yang menganggap manusia tidak memiliki kehendak sama sekali, dan Qadariyyah yang meyakini manusia bebas sepenuhnya tanpa campur tangan Allah.

Menurutnya, Ahlus Sunnah wal Jamaah mengambil jalan tengah melalui konsep kasb, yakni manusia memiliki pilihan dan bertanggung jawab atas pilihannya, sementara Allah Maha Mengetahui dan menciptakan kemampuan tersebut. Dalam konteks itulah, doa memiliki posisi yang sangat penting.

“Doa bukan pengganti usaha dan bukan jalan pintas untuk memperoleh hasil tanpa bekerja. Doa adalah bentuk pengharapan kepada Allah setelah manusia melakukan ikhtiar terbaiknya,” ujarnya.

Mengutip hikmah Syaikh Ibnu ‘Atha’illah Al-Iskandari dalam Al-Hikam, Rasyidi mengatakan bahwa keterlambatan terkabulnya doa bukan alasan untuk berputus asa. Sebab, Allah mengabulkan doa sesuai dengan waktu dan cara terbaik menurut kehendak-Nya.

Menurutnya, jawaban pertama dari doa sering kali bukan berupa terpenuhinya keinginan, melainkan ketenangan jiwa. Ketenangan itulah yang kemudian menguatkan tekad, menjernihkan pikiran, dan mendorong seseorang bekerja lebih optimal.

Karena itu, Haji Rasyidi HY menegaskan bahwa doa dan ikhtiar tidak boleh dipisahkan. “Doa tanpa ikhtiar adalah sikap yang keliru, sedangkan ikhtiar tanpa doa merupakan bentuk kesombongan. Keduanya harus berjalan beriringan,” katanya.

Ia menambahkan, teladan tersebut juga tampak dalam kisah para nabi. Nabi Ibrahim AS tetap berikhtiar dalam kehidupannya sebelum memohon keturunan yang saleh, sementara Nabi Musa AS berdoa kepada Allah setelah mengambil langkah menghadapi Firaun. “Doa adalah penyempurna ikhtiar, bukan penggantinya,” pungkasnya. (pot)

Post Comment