Dishub DKI Target Bangun Pelican Crossing di Dekat Binamega dalam 1-2 Minggu

Breaking

Dishub DKI Target Bangun Pelican Crossing di Dekat Binamega dalam 1-2 Minggu

SATYABERITA – Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta menargetkan pembangunan pelican crossing di kawasan Jalan Gatot Subroto, tepatnya di depan Gedung Binamega, dapat direalisasikan dalam waktu satu hingga dua minggu ke depan. Fasilitas tersebut akan menjadi solusi sementara untuk memenuhi kebutuhan penyeberangan pejalan kaki sambil menunggu pembangunan Jembatan Penyeberangan Orang (JPO).

Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Budi Awaluddin, mengatakan kebutuhan fasilitas penyeberangan di lokasi tersebut cukup mendesak lantaran jarak antarakses penyeberangan yang tersedia saat ini dinilai terlalu jauh.

“Di lokasi itu sebenarnya sudah ada tiga titik penyeberangan. Pertama Pelican Crossing di depan Ayam Goreng Soeharti dengan jarak sekitar 383 meter ke arah barat. Kemudian Jembatan Penyeberangan Orang di depan BT Binamega berjarak sekitar 718 meter ke arah barat, dan satu lagi di U-Turn Simpang Gotri sekitar 364 meter,” ujar Budi.

Menurutnya, secara ideal fasilitas penyeberangan seharusnya tersedia setiap 100 hingga 200 meter. Karena jarak antarpenyeberangan di kawasan tersebut cukup jauh, masyarakat membutuhkan akses penyeberangan yang lebih dekat.

“Kalau secara normal idealnya 100 sampai 200 meter sudah ada lagi fasilitas penyeberangan. Dengan kondisi sekarang yang jaraknya cukup jauh, berarti memang fasilitas penyeberangan ini sangat dibutuhkan masyarakat,” katanya.

Budi menjelaskan, kajian pembangunan pelican crossing telah selesai dilakukan. Saat ini Dishub hanya menunggu Dinas Bina Marga membuka taman median jalan, trotoar, serta pagar pembatas agar pekerjaan dapat segera dimulai.

“Kajiannya sudah selesai. Tinggal menunggu Bina Marga membuka taman di median dan trotoarnya. Begitu itu selesai dibongkar, saat itu juga kami langsung membangun pelican crossing,” ujarnya.

Ia memperkirakan proses pembangunan tidak membutuhkan waktu lama karena seluruh pekerjaan menjadi kewenangan Dishub.

“Mudah-mudahan dalam satu sampai dua minggu sudah bisa selesai,” kata Budi.

Meski demikian, Budi mengakui keberadaan pelican crossing dengan lampu penyeberangan akan menyebabkan perlambatan arus lalu lintas di kawasan tersebut.

“Tentu akan ada perlambatan karena ada pejalan kaki yang menyeberang. Pelican crossing ini juga dilengkapi lampu lalu lintas, sehingga kendaraan harus berhenti ketika ada masyarakat yang menyeberang,” jelasnya.

Untuk memastikan keselamatan pengguna jalan pada masa awal operasional, Dishub akan menempatkan petugas di lokasi.

“Di awal nanti akan ada beberapa petugas yang bersiaga untuk menjamin keamanan karena sebelumnya masyarakat terbiasa menggunakan jembatan. Pengendara juga perlu waktu untuk beradaptasi dengan keberadaan pelican crossing,” ucapnya.

Budi menegaskan, pelican crossing tersebut hanya bersifat sementara. Setelah pembangunan Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) rampung, fasilitas itu akan dibongkar agar tidak menghambat kelancaran lalu lintas.

“Kalau JPO sudah selesai dibangun, pelican crossing akan dihilangkan. Jangan sampai ada dua fasilitas sekaligus karena tidak efektif. Kami ingin masyarakat menggunakan JPO sehingga arus lalu lintas bisa kembali lebih lancar,” tuturnya.

Terkait pengaturan lampu lalu lintas di pelican crossing, Budi menyebut durasi lampu merah diperkirakan sekitar 30 detik, menyesuaikan kebutuhan di lapangan. Ia kembali menegaskan bahwa target pembangunan tetap bergantung pada proses pembongkaran median jalan dan pagar oleh Dinas Bina Marga.

Post Comment