100 Tahun Ali Sadikin, Fauzi Bowo Ajak Hidupkan Kembali Semangat Membangun Jakarta sebagai Kota Seni dan Budaya

Breaking

100 Tahun Ali Sadikin, Fauzi Bowo Ajak Hidupkan Kembali Semangat Membangun Jakarta sebagai Kota Seni dan Budaya

SATYABERITA – Peringatan 100 tahun kelahiran Gubernur DKI Jakarta periode 1966–1977, Ali Sadikin, menjadi momentum untuk menghidupkan kembali semangat pembangunan Jakarta yang tidak hanya berorientasi pada kemajuan fisik dan ekonomi, tetapi juga menjadikan seni dan kebudayaan sebagai fondasi utama pembangunan kota.

Hal itu disampaikan mantan Gubernur DKI Jakarta sekaligus mantan staf Ali Sadikin, Fauzi Bowo, saat mengenang berbagai gagasan besar yang diwariskan sosok yang akrab disapa Bang Ali tersebut.

Fauzi Bowo mengungkapkan, sejak awal memimpin Jakarta pada 1968, Ali Sadikin telah menempatkan pembangunan kebudayaan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari pembangunan ibu kota.

Menurutnya, salah satu pertanyaan pertama yang diajukan Ali Sadikin saat mulai memimpin Jakarta adalah mengapa para seniman yang sebelumnya aktif berkumpul di kawasan Senen tidak lagi terlihat. Jawaban yang diterimanya sederhana, namun memiliki makna mendalam: para seniman tidak lagi memiliki ruang untuk berkarya.

“Dari situlah lahir keyakinan Bang Ali bahwa pemerintah mempunyai kewajiban menyediakan ruang bagi para seniman untuk mencipta, berkreasi, dan menyampaikan gagasan kepada masyarakat,” ujar Fauzi Bowo di TIM, Kamis (16/7) 2026).

Bagi Ali Sadikin, lanjut Fauzi, kemajuan sebuah kota tidak cukup diukur dari berdirinya gedung-gedung tinggi atau meningkatnya pertumbuhan ekonomi. Kehidupan seni dan kebudayaan merupakan indikator penting kualitas sebuah kota karena mampu membentuk karakter masyarakat, memperkuat identitas daerah, mendorong kreativitas, sekaligus menjadi ruang dialog yang sehat dalam kehidupan demokrasi.

Karena itu, Ali Sadikin meyakini pemerintah harus hadir sebagai fasilitator, bukan pengendali. Seniman perlu diberi kebebasan untuk berkarya tanpa intervensi, dengan tetap menjunjung tinggi tanggung jawab terhadap masyarakat.

Lahirnya TIM dan Dewan Kesenian Jakarta

Komitmen tersebut diwujudkan melalui berbagai kebijakan strategis. Pada 1968, Ali Sadikin membentuk Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) sebagai mitra pemerintah dalam membina kehidupan seni dan budaya. Pada tahun yang sama, ia juga meresmikan Pusat Kesenian Jakarta yang kemudian dikenal sebagai Taman Ismail Marzuki (TIM).

Fauzi Bowo menilai, TIM menjadi simbol paling nyata dari visi kebudayaan Ali Sadikin. “TIM bukan sekadar kumpulan gedung pertunjukan. TIM adalah rumah bagi para seniman Indonesia untuk berkarya, belajar, berdiskusi, bereksperimen, sekaligus bertemu dengan masyarakat. Di sanalah ekosistem seni dibangun,” katanya.

Pada masa kepemimpinan Ali Sadikin, sekitar 250 kegiatan seni dan budaya digelar setiap tahun di TIM. Pemerintah saat itu juga berupaya menjaga harga tiket pertunjukan tetap terjangkau agar masyarakat dari berbagai kalangan dapat menikmati karya seni.

Upaya memperkuat ekosistem seni kemudian dilanjutkan dengan berdirinya Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ) pada 1970 yang menjadi cikal bakal Institut Kesenian Jakarta (IKJ), serta pembentukan Akademi Jakarta pada 1973 yang berperan menjaga kualitas kehidupan kebudayaan di ibu kota.

Tak hanya itu, perhatian terhadap pelestarian budaya Betawi juga diwujudkan melalui pembentukan Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) pada 1977 yang dikelola masyarakat dengan dukungan pemerintah.

Kebudayaan Adalah Investasi Jangka Panjang

Fauzi Bowo menilai, salah satu warisan terbesar Ali Sadikin adalah keberaniannya menjadikan kebudayaan sebagai investasi jangka panjang.

Menurutnya, tidak semua kegiatan seni mampu menghasilkan keuntungan ekonomi secara langsung. Namun, seni memiliki nilai sosial, pendidikan, dan peradaban yang sangat besar sehingga layak mendapat dukungan pemerintah.

Menghadapi tantangan era digital, Fauzi menegaskan bahwa nilai-nilai yang diwariskan Ali Sadikin tetap relevan hingga saat ini.

“Sedikitnya lima prinsip yang perlu terus dijaga, yakni kebebasan seniman dalam berkreasi, keberpihakan pemerintah terhadap pelaku seni dan budaya, minimnya intervensi pemerintah terhadap proses kreatif, penguatan ruang-ruang kebudayaan hingga tingkat kota, kecamatan, dan kelurahan, serta kolaborasi antara pemerintah, komunitas, perguruan tinggi, dan sektor swasta dalam membangun ekosistem budaya,” ujar pria yang akrab disapa Bang Foke itu.

Ke depan, Fauzi berharap Taman Ismail Marzuki terus berkembang sebagai platform yang mengintegrasikan seluruh pemangku kepentingan seni dan budaya di Jakarta. TIM juga diharapkan menjadi pusat pembelajaran nasional mengenai pengelolaan fasilitas seni, pengembangan talenta kreatif, penyelenggaraan pertunjukan, sistem subsidi kebudayaan, hingga ruang dialog publik melalui karya seni.

“Ali Sadikin telah membuka jalan dan meletakkan fondasi Jakarta sebagai kota seni dan budaya. Tanggung jawab kita hari ini adalah menjaga, merawat, dan mengembangkan warisan tersebut agar tetap hidup serta memberi manfaat bagi generasi yang akan datang,” tutup Fauzi Bowo.

Peringatan 100 tahun kelahiran Ali Sadikin diharapkan menjadi momentum bagi seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat komitmen membangun Jakarta sebagai kota global yang tetap berakar kuat pada seni, budaya, serta kebebasan berekspresi.

Post Comment