IKKB Prihatin atas Polemik Penilaian LCC Empat Pilar MPR RI, Usulkan Lomba Diulang

Breaking

IKKB Prihatin atas Polemik Penilaian LCC Empat Pilar MPR RI, Usulkan Lomba Diulang

SATYABERITA – Ketua Harian Ikatan Keluarga Kalimantan Barat (IKKB), Budi Siswanto, menyampaikan keprihatinannya terhadap insiden yang dialami peserta asal SMAN 1 Pontianak dalam Final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI 2026 tingkat Provinsi Kalimantan Barat.

Insiden tersebut menjadi sorotan setelah jawaban yang disampaikan peserta SMAN 1 Pontianak dinilai salah oleh dewan juri, meskipun jawaban serupa dari peserta lain justru dinyatakan benar.

Budi menilai kejadian itu tidak hanya merugikan peserta, tetapi juga dapat memengaruhi mental dan rasa percaya diri pelajar yang telah mempersiapkan diri secara maksimal untuk mengikuti kompetisi akademik tersebut.

“Kami sangat prihatin atas kejadian yang menimpa pelajar asal SMAN 1 Pontianak. Dalam sebuah perlombaan akademik, objektivitas dan ketelitian sangat penting agar tidak menimbulkan rasa kecewa maupun ketidakadilan bagi peserta,” kata Budi, Rabu (13/5/2026).

Menurutnya, para peserta telah membawa nama baik sekolah dan daerah masing-masing. Karena itu, seluruh proses penilaian seharusnya dilakukan secara profesional, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Budi juga berharap panitia dan pihak terkait melakukan evaluasi menyeluruh terhadap mekanisme penjurian agar kejadian serupa tidak terulang pada pelaksanaan lomba berikutnya.

“Saya juga mengusulkan agar lomba ini dapat diulang untuk memberikan kesempatan kepada semua peserta secara fair,” ujarnya.

Selain itu, ia menyoroti sikap dewan juri yang dinilai tidak terbuka terhadap kritik dan menunjukkan sikap arogan di hadapan para peserta yang masih berstatus pelajar.

“Kami berharap ada evaluasi dan perbaikan sistem penilaian ke depan. Jangan sampai semangat pelajar untuk berprestasi justru menurun akibat kesalahan yang sebenarnya bisa dihindari,” tegasnya.

Budi meminta seluruh pihak tetap menjaga suasana kondusif dan menjadikan peristiwa tersebut sebagai bahan evaluasi bersama demi meningkatkan kualitas kompetisi pendidikan di masa mendatang.

“Anak-anak ini telah berusaha dan menunjukkan kemampuan terbaiknya. Mereka patut diapresiasi dan diberikan keadilan,” tambahnya.

Ia juga mengapresiasi langkah cepat MPR RI yang disebut telah melakukan evaluasi dengan menonaktifkan juri dan pembawa acara (MC) yang terlibat dalam perlombaan tersebut.

Tak hanya itu, Budi turut mengusulkan adanya sistem perekaman jawaban peserta dalam setiap perlombaan agar polemik serupa dapat diselesaikan secara objektif.

“Saya juga minta ke depan agar ada perekaman jawaban dari peserta lomba agar saat ada kejadian seperti ini sangat mudah menyelesaikannya, tinggal diperdengarkan kembali jawaban peserta yang sudah disampaikan,” pungkasnya.

Untuk diketahui, polemik terjadi dalam Final LCC Empat Pilar MPR RI 2026 tingkat Kalimantan Barat yang diikuti tiga sekolah, yakni SMAN 1 Pontianak, SMAN 1 Sambas, dan SMAN 1 Sanggau.

Dalam perlombaan tersebut, peserta SMAN 1 Pontianak, Josepha Alexandra dari Grup C, mendapat pengurangan nilai lima poin untuk jawaban terkait proses pemilihan anggota BPK.

Namun, jawaban serupa yang disampaikan Grup B dari SMAN 1 Sambas justru memperoleh nilai 10 dari juri yang sama, yakni Dyastasita selaku Kepala Biro Pengkajian Setjen MPR RI.

Josepha sempat memprotes keputusan tersebut karena merasa jawaban yang diberikan sama. Meski demikian, dewan juri tetap menyatakan jawaban dari SMAN 1 Pontianak salah.

Post Comment