DPRD Diminta Ikut Kawal Pengawasan Air Tanah, PAM Jaya Dorong Warga Beralih ke Air Perpipaan

SATYABERITA – Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta, Nirwono Joga, menekankan pentingnya kolaborasi seluruh pihak dalam menjaga ketersediaan air dan mengendalikan penggunaan air tanah di Jakarta.
Menurutnya, pemerintah, DPRD, komunitas, hingga masyarakat harus berbagi peran dalam pengawasan dan penegakan aturan di lapangan.
Nirwono mengatakan pemerintah memiliki tugas dalam penyusunan regulasi dan penyediaan layanan, sementara komunitas dan koalisi masyarakat dapat mengawal implementasi kebijakan di lapangan.
Ia juga menilai DPRD perlu aktif mendengarkan aspirasi masyarakat serta ikut melakukan pengawasan langsung.
“DPRD juga sebagai regulator ikut mendengarkan aspirasi dari teman-teman koalisi. Aturannya bagaimana, lalu pengawalannya dalam bentuk apa oleh masyarakat,” ujar Nirwono, pada diskusi yang digelar Koalisi Jaga Air Tanah Jakarta, di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Selasa (12/5/2026).
Ia mencontohkan pengawasan terhadap industri maupun kawasan perumahan yang masih menggunakan air tanah secara berlebihan. Menurutnya, pengawasan tidak cukup hanya dilakukan oleh dinas terkait, tetapi juga perlu melibatkan komunitas dan wakil rakyat.
“Teman-teman DPRD juga sebaiknya ikut turun ke lapangan. Jadi ikut mengawal apakah aturan yang sudah ada itu dapat dilaksanakan di lapangan atau tidak,” katanya.

Nirwono menambahkan, penerapan aturan penggunaan air perpipaan juga harus disesuaikan dengan kondisi wilayah. Ia menilai pemerintah perlu melakukan pemetaan terlebih dahulu sebelum menerapkan kebijakan secara menyeluruh.
“Kalau wilayahnya belum ada jaringan perpipaan lalu dipaksa menggunakan air PAM tentu tidak bisa. Jadi memang perlu pemetaan,” ucapnya.
Diskusi yang mengambil tema dampak El Nino terhadap air tanah di Jakarta ini, dalam penjelasannya, Nirwono menyebut pemerintah perlu mengoptimalkan badan air seperti sungai dan waduk, serta mempertimbangkan modifikasi cuaca sebagai langkah antisipasi.
Ia menjelaskan modifikasi cuaca tidak hanya digunakan untuk mengurangi curah hujan saat musim hujan, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk mendatangkan hujan pada musim kemarau.
“Pada musim hujan kemarin modifikasi cuaca dilakukan untuk mengurangi curah hujan, sementara saat musim kemarau bisa untuk mendatangkan hujan,” katanya.
Sementara itu, Corporate Secretary PAM Jaya, Gatra Vaganza yang hadir menjadi salah satu narasumber menyatakan, pihaknya menyambut positif meningkatnya kesadaran masyarakat untuk beralih dari penggunaan air tanah ke air perpipaan.
Menurutnya, penggunaan air perpipaan bukan hanya untuk meningkatkan kualitas air bagi masyarakat Jakarta, tetapi juga sebagai upaya menjaga kelestarian lingkungan dari dampak eksploitasi air tanah.
“Ini bukan hanya dari sisi PAM semata, tetapi memang lebih mengedepankan kualitas air yang baik bagi masyarakat DKI Jakarta sekaligus menjaga kelestarian lingkungan,” ujar Gatra.

Ia mengatakan eksploitasi air tanah dalam jangka panjang dapat menimbulkan dampak buruk terhadap lingkungan. Karena itu, PAM Jaya terus berupaya memperluas akses layanan air perpipaan di Jakarta.
Terkait potensi kekeringan akibat El Nino, Gatra mengaku optimistis pasokan air baku untuk pelanggan PAM Jaya masih aman. Hal itu karena mayoritas pasokan air baku berasal dari Jatiluhur yang hingga kini dinilai masih dalam kondisi stabil.
“Dari sisi debit air baku yang ada di Jatiluhur sejauh ini tidak mengindikasikan hal-hal yang mengkhawatirkan,” katanya.
Namun demikian, ia mengingatkan masyarakat yang masih bergantung pada air tanah justru lebih berpotensi terdampak apabila musim kemarau panjang terjadi.
Saat ini, lanjut Gatra, cakupan layanan PAM Jaya telah mencapai sekitar 81 persen dengan total 1,1 juta pelanggan. Untuk mencapai target layanan 100 persen, PAM Jaya masih perlu menambah sekitar 2 juta pelanggan lagi.
“Jumlah pelanggan PAM saat ini sudah di angka 1,1 juta pelanggan dengan cakupan pelayanan sekitar 81 persen,” tuturnya. (pot)
Post Comment