HUT ke-499 Jakarta, Rano Karno: Kota Global Bukan Tujuan Akhir, Kesejahteraan Warga yang Utama

SATYABERITA – Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, menegaskan bahwa ambisi Jakarta menjadi kota global tidak boleh berhenti pada pencapaian status semata. Menurutnya, keberhasilan pembangunan harus diukur dari sejauh mana manfaatnya dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.
Pernyataan tersebut disampaikan Rano saat menghadiri Rapat Paripurna DPRD DKI Jakarta dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-499 Jakarta di Gedung DPRD DKI Jakarta, Senin (22/6/2026).
Rapat Paripurna dibuka oleh Ketua DPRD DKI Jakarta, Suhud Alynudin, dan dihadiri sejumlah tokoh penting, di antaranya mantan Ketua DPRD DKI Jakarta Prasetyo, mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat, mantan Penjabat Gubernur DKI Jakarta Teguh Setyabudi, serta figur publik Maudy Koesnaedi.
Dalam pidatonya, Rano menekankan bahwa predikat kota global bukanlah garis akhir dari perjalanan pembangunan Jakarta.
“Menjadi kota global bukanlah tujuan akhir. Yang lebih penting adalah memastikan setiap kemajuan yang dicapai dapat dirasakan manfaatnya oleh seluruh warga,” ujar Rano.
Target Masuk 50 Besar Kota Global Dunia
Rano mengungkapkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menargetkan ibu kota masuk dalam jajaran 50 besar kota global dunia pada tahun 2030. Namun, ia menegaskan bahwa pencapaian tersebut harus berjalan seiring dengan pembangunan yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.
Menurutnya, transformasi Jakarta tidak hanya berbicara tentang pembangunan fisik, infrastruktur modern, maupun pertumbuhan ekonomi. Lebih dari itu, pembangunan harus menyentuh aspek mendasar kehidupan warga, seperti pendidikan, kesehatan, dan perlindungan sosial.
“Pembangunan Jakarta harus dimulai dari manusia. Kota ini harus mampu membuka kesempatan yang setara dan memberikan ruang bagi setiap warga untuk hidup lebih baik,” katanya.
Pada momentum HUT ke-499 Jakarta, Rano juga mengingatkan pentingnya menjaga arah pembangunan agar tetap inklusif dan tidak meninggalkan kelompok rentan.
Ia menilai ukuran kemajuan sebuah kota tidak hanya tercermin dari gedung-gedung tinggi atau capaian statistik ekonomi, melainkan dari kualitas hidup masyarakat yang tinggal di dalamnya.
“Ukuran kemajuan kota bukan hanya dilihat dari bangunan megah atau angka statistik, tetapi dari sejauh mana setiap warga bisa hidup layak, anak-anak bisa bermimpi, dan lansia merasa dihormati,” tuturnya.
Selain menyoroti arah pembangunan, Rano juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk turut berperan menjaga Jakarta melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, semangat menjaga kota tidak cukup hanya menjadi slogan, melainkan harus diwujudkan dalam kebiasaan dan partisipasi aktif masyarakat.
“Jaga Jakarta bukan hanya slogan. Itu harus diwujudkan dalam tindakan nyata, dari lingkungan terkecil,” ujarnya.
Menutup pidatonya, Rano menegaskan bahwa memasuki usia hampir lima abad, Jakarta harus terus berkembang menjadi kota yang maju, kompetitif, dan berdaya saing global tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaan.
Post Comment