Budi Siswanto Apresiasi Pramono, Taman Bendera Pusaka Tembus 40 Besar Seoul Design Award 2026

Breaking

Budi Siswanto Apresiasi Pramono, Taman Bendera Pusaka Tembus 40 Besar Seoul Design Award 2026

SATYABERITA – Taman Bendera Pusaka di Jakarta Selatan berhasil mengharumkan nama Ibu Kota di kancah internasional. Ruang publik yang dibangun pada masa kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung itu masuk dalam jajaran 40 finalis terbaik (Top 40 Finalists) Seoul Design Award 2026.

Capaian tersebut mendapat apresiasi dari Komisaris PT Integrasi Transit Jakarta (ITJ), Budi Siswanto. Menurutnya, pengakuan internasional tersebut menjadi bukti bahwa pembangunan ruang publik di Jakarta mulai mendapat perhatian dan pengakuan dunia.

“Taman yang merupakan integrasi Taman Ayodya, Taman Langsat, dan Taman Leuser tersebut berhasil masuk dalam jajaran Top 40 Finalists Seoul Design Award 2026, ajang desain internasional yang tahun ini menerima 1.204 pengajuan proyek dari 91 negara,” kata Budi Siswanto di Jakarta, Sabtu.

Budi menilai, pencapaian tersebut semakin istimewa karena Taman Bendera Pusaka tidak sekadar dibangun sebagai ruang terbuka hijau (RTH). Lebih dari itu, taman tersebut menghadirkan pesan sejarah, persatuan, dan kebangsaan melalui simbol Bendera Pusaka Merah Putih.

Menurutnya, nama Bendera Pusaka memiliki makna mendalam yang merepresentasikan perjalanan sejarah dan perjuangan bangsa Indonesia.

“Nama Bendera Pusaka sendiri bukan sekadar nama. Ada pesan tentang persatuan, sejarah perjuangan bangsa dan bagaimana generasi sekarang memahami bahwa Indonesia dibangun melalui proses panjang. Jadi ketika masyarakat datang berolahraga, berkumpul atau berekreasi, ada nilai kebangsaan yang ikut dihadirkan,” ujarnya.

Pembangunan Taman Bendera Pusaka dimulai pada 8 Agustus 2025 melalui prosesi peletakan batu pertama (groundbreaking) oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung di kawasan Taman Langsat, Jalan Barito, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Setelah melalui tahapan pembangunan, taman seluas sekitar 5,6 hektare tersebut akhirnya diresmikan Pramono pada 14 Maret 2026.

Berbagai fasilitas tersedia di kawasan ini, mulai dari jogging track sepanjang 1,2 kilometer, fasilitas olahraga dan rekreasi, amphitheater, ruang komunitas, hingga sejumlah elemen ekologis yang mendukung fungsi lingkungan.

Dari sisi desain, Taman Bendera Pusaka mengusung filosofi Sang Saka Merah Putih melalui pembagian zona merah dan putih yang terhubung dengan jalur pedestrian serta jembatan.

Budi mengatakan, keberadaan taman tersebut juga menjadi sarana interaksi sosial sekaligus edukasi informal bagi masyarakat mengenai sejarah dan identitas kebangsaan.

“Nasionalisme tidak selalu harus disampaikan melalui pidato. Bisa melalui ruang publik yang setiap hari digunakan masyarakat. Anak-anak bermain, warga berolahraga, komunitas berkegiatan, tetapi pada saat yang sama mereka berada di ruang yang membawa simbol Merah Putih dan sejarah bangsa,” tuturnya.

Selain membawa pesan kebangsaan, Taman Bendera Pusaka juga dinilai memiliki keunggulan dari sisi keberlanjutan lingkungan.

Berdasarkan penilaian Seoul Design Award, proyek tersebut berhasil mengubah saluran beton menjadi tepian yang dinaturalisasi dan lahan basah. Transformasi ini memungkinkan fungsi pengelolaan air, pemulihan ekosistem, dan penyediaan ruang publik berjalan secara bersamaan.

Budi menilai pengakuan internasional tersebut menunjukkan bahwa pembangunan kota modern tidak harus mempertentangkan fungsi ekologis, estetika, aktivitas masyarakat, dan identitas lokal.

Sebaliknya, seluruh aspek tersebut dapat diintegrasikan dalam satu kawasan yang memberikan manfaat langsung bagi warga.

“Jakarta sedang menuju usia lima abad. Kita membutuhkan warisan pembangunan yang bukan hanya terlihat secara fisik, tetapi juga memiliki nilai dan dapat dikenang. Taman Bendera Pusaka bisa menjadi salah satu legasi penting menuju Jakarta lima abad,” imbuhnya.

Apresiasi serupa disampaikan Ketua Umum Pemuda Cinta Tanah Air (PITA), Ervan Purwanto. Ia menilai keberhasilan Taman Bendera Pusaka masuk dalam jajaran finalis Seoul Design Award 2026 semakin memperkuat posisi Jakarta sebagai kota global.

Menurut Ervan, predikat kota global tidak cukup hanya ditunjukkan melalui keberadaan gedung-gedung tinggi, pusat bisnis, dan infrastruktur modern. Jakarta juga harus mampu menghadirkan ruang publik berkualitas dengan standar internasional tanpa kehilangan karakter dan identitas lokal.

“Jakarta tidak kalah dengan kota-kota besar dunia. Pengakuan dari Seoul Design Award ini menunjukkan bahwa karya yang lahir di Jakarta mampu berdiri sejajar dan diperhitungkan dalam percaturan desain kota internasional,” tegas Ervan.

Ia berharap pencapaian tersebut menjadi momentum bagi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk terus mengembangkan ruang publik berkualitas yang mengedepankan keberlanjutan lingkungan, sekaligus menjaga nilai sejarah dan identitas Jakarta.

Dengan masuknya Taman Bendera Pusaka dalam jajaran Top 40 Finalists Seoul Design Award 2026, Jakarta dinilai semakin menunjukkan bahwa pembangunan kota tidak hanya berorientasi pada infrastruktur fisik, tetapi juga mampu menghadirkan ruang hidup yang memiliki nilai ekologis, sosial, budaya, dan kebangsaan.

Post Comment