Kinerja RDF Rorotan Disorot Komisi C DPRD DKI, Pendapatan dan Biaya Operasional Jomplang

Breaking

Kinerja RDF Rorotan Disorot Komisi C DPRD DKI, Pendapatan dan Biaya Operasional Jomplang

SATYABERITA – Kinerja operasional dan keuangan fasilitas Refuse Derived Fuel (RDF) Rorotan, Jakarta Utara, menjadi sorotan Komisi C DPRD DKI Jakarta.

Ketua Komisi C DPRD DKI Jakarta Dimaz Raditya mengatakan, pihaknya ingin memastikan kinerja RDF, khususnya dari sisi keuangan dan capaian pengolahan sampah. Hal itu disampaikan usai meninjau fasilitas RDF Rorotan, Selasa (15/9).

“Fokus utama kami sebenarnya melihat kinerja keuangannya dari RDF Rorotan,” ujar Dimaz.

Menurut dia, kinerja pengolahan sampah RDF Rorotan saat ini belum maksimal. Dengan kapasitas input 2.500 ton sampah per hari, fasilitas tersebut seharusnya menghasilkan sekitar 875 ton output per hari. Namun, realisasinya baru sekitar 550 ton input dengan output sekitar 192 ton per hari.

Komisi C juga menyoroti kondisi keuangan RDF. Target pendapatan berada di kisaran Rp115 miliar, sementara biaya yang tercatat mencapai sekitar Rp780 miliar. Namun, DPRD masih membutuhkan data rinci untuk mengetahui komponen pendapatan dan pengeluaran tersebut.

“Masih sangat jauh,” kata Dimaz.

Komisi C berencana menggelar rapat lanjutan pada Rabu pekan depan untuk mengetahui penyebab belum tercapainya target operasional maupun keuangan RDF Rorotan.

Dimaz menegaskan, penilaian terhadap keberhasilan RDF masih terlalu dini karena fasilitas tersebut baru beroperasi kurang dari satu tahun. Saat ini, pengelolaannya masih dalam tahap evaluasi.

Sementara itu, Anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta August Hamonangan menyoroti pengelolaan RDF yang masih melibatkan pihak ketiga hingga November 2026.

Komisi C akan meminta kepastian apakah pengelolaan RDF Rorotan tetap dilakukan pihak ketiga atau nantinya diambil alih Dinas Lingkungan Hidup (LH) DKI Jakarta.

“Karena itu kan pengaruh juga dalam penganggaran BLUD maupun pendapatan yang kita peroleh nanti,” pungkas August.

Post Comment