New York Lumpuh Dihantam Badai Salju, Jalan Ditutup hingga Garda Nasional Dikerahkan

Breaking

New York Lumpuh Dihantam Badai Salju, Jalan Ditutup hingga Garda Nasional Dikerahkan

SATYABERITA – Kota New York City lumpuh setelah badai salju besar menerjang kawasan timur laut Amerika Serikat pada Senin (23/2/2026).

Hujan salju lebat disertai angin kencang memaksa pemerintah setempat menutup jalan, sekolah, hingga mengerahkan Garda Nasional untuk mengantisipasi dampak cuaca ekstrem tersebut.

Prakiraan cuaca menyebutkan, ketebalan salju bisa mencapai 24 inci di sejumlah wilayah, memicu kekhawatiran akan gangguan transportasi, pemadaman listrik, dan risiko keselamatan warga.

Sebelumnya, empat negara bagian di Amerika Serikat telah menetapkan status darurat menjelang kedatangan badai musim dingin besar yang diprediksi melanda kawasan timur laut.

Langkah ini diambil sebagai bentuk kesiapsiagaan menghadapi potensi dampak parah yang ditimbulkan.

Menurut Gubernur New York City, Kathy Hochul mengumumkan serangkaian kebijakan antisipatif, termasuk mengaktifkan 100 anggota Garda Nasional yang akan disiagakan di New York City, Long Island, dan Lower Hudson Valley.

“Pengerahan pasukan ini difokuskan untuk membantu respons darurat, evakuasi jika diperlukan, serta memastikan distribusi logistik berjalan lancar,” kata Hochul dikutip, Rabu (25/2).

Sementara itu pada tingkat kota, Wali Kota New York City, Zohran Mamdani mengambil langkah tegas dengan menutup jalan bagi seluruh kendaraan non-esensial, termasuk sepeda dan skuter.

“Kebijakan tersebut berlaku mulai pukul 21.00 waktu setempat pada Minggu hingga pukul 12.00 keesokan harinya,” ujar Zohran.

Selain itu, kata Zohran seluruh gedung sekolah di kota juga ditutup sementara demi keselamatan siswa dan tenaga pengajar.

Pejabat setempat mengimbau warga untuk tetap berada di dalam rumah, menghindari perjalanan yang tidak mendesak, serta memantau pembaruan informasi cuaca secara berkala.

Fenomena cuaca ekstrem seperti ini diyakini semakin sering terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Sejumlah ilmuwan mengaitkannya dengan dampak perubahan iklim global.

Namun, pemerintahan Amerika Serikat saat ini di bawah Presiden Donald Trump dinilai lebih menekankan kebijakan pro-bahan bakar fosil dibandingkan percepatan transisi menuju energi hijau dan terbarukan.

Post Comment