Meski Raih UHC Awards 2026, Jakarta Selatan Masih Hadapi PR Besar di Sektor Kesehatan

SATYABERITA – Selatan dinilai masih menghadapi berbagai tantangan dalam meningkatkan kualitas pelayanan dan derajat kesehatan masyarakat.
Padahal Jakarta Selatan memiliki infrastruktur kesehatan yang maju, jaringan puskesmas yang luas, serta cakupan kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang tinggi,
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Administrasi Jakarta Selatan mencatat jumlah penduduk telah melampaui 2,3 juta jiwa.
Kondisi tersebut membuat kebutuhan layanan kesehatan terus meningkat, seiring tingginya mobilitas penduduk, perubahan struktur usia, hingga meningkatnya kasus penyakit kronis.
Di sisi lain, Jakarta Selatan berhasil meraih UHC Awards 2026 dengan capaian kepesertaan JKN sebesar 101,27 persen dan peserta aktif mencapai 96,03 persen.
Meski demikian, Ketua Kolektif Pimpinan Wilayah (KPW) Rekan Indonesia DKI Jakarta, Martha Tiana Hermawan atau Tian, menilai keberhasilan pembangunan kesehatan tidak cukup diukur dari banyaknya fasilitas maupun tingginya kepesertaan JKN.
“Jakarta Selatan sudah memiliki modal yang sangat kuat dari sisi infrastruktur. Namun, ukuran keberhasilan sesungguhnya adalah apakah masyarakat semakin sehat, semakin mudah memperoleh pelayanan, dan semakin sedikit mengalami hambatan ketika membutuhkan layanan kesehatan,” ujar Tian dalam keterangan tertulis, Selasa (4/8/2026).
Menurut Tian, Jakarta Selatan kini menghadapi tantangan ganda, yakni pengendalian penyakit menular dan meningkatnya penyakit tidak menular yang dipicu pola hidup masyarakat.
Hal itu tercermin dari hasil Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Pemprov DKI Jakarta yang menemukan 93 persen peserta kurang aktivitas fisik, 74 persen mengalami dislipidemia, dan 51 persen memiliki masalah kesehatan gigi.
“Penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes, penyakit jantung, dan stroke tidak bisa diselesaikan hanya dengan menambah rumah sakit. Yang jauh lebih penting adalah membangun budaya hidup sehat, memperkuat deteksi dini, dan meningkatkan edukasi masyarakat,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa kualitas pelayanan kesehatan harus terus ditingkatkan, mulai dari waktu tunggu pasien, sistem rujukan, hingga pelayanan bagi penyandang disabilitas dan pasien penyakit kronis.
Menurutnya, penguatan layanan kesehatan primer melalui puskesmas menjadi kunci agar masyarakat tidak mudah jatuh sakit dan beban rumah sakit dapat ditekan.
Tian menambahkan, tantangan kesehatan di Jakarta Selatan membutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, BPJS Kesehatan, rumah sakit, puskesmas, akademisi, dunia usaha, hingga organisasi masyarakat.
“Pada akhirnya, ukuran kota yang sehat bukanlah berapa banyak rumah sakit yang dibangun, tetapi berapa banyak warga yang tetap sehat dan tidak perlu dirawat di rumah sakit,” pungkasnya.
Post Comment