Haji Rasyidi HY: Maulid Nabi Jadikan sebagai Momentum Meneladani Akhlak Rasulullah
SATYABERITA – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW hendaknya tidak berhenti pada seremoni tahunan, tetapi menjadi momentum bagi umat Islam untuk mengenang perjuangan sekaligus meneladani akhlak Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.
Hal itu disampaikan Kepala Divisi Pengkajian dan Pendidikan Jakarta Islamic Centre (JIC), Dr. Ir. H. Rasyidi HY, SH., SH.I., MM., MA., CPA, C.Med. Menurutnya, Maulid Nabi memiliki nilai penting sebagai sarana memperkuat iman, meningkatkan amal saleh, dan mempererat ukhuwah Islamiyah.
Di Indonesia, Maulid Nabi umumnya diperingati melalui berbagai kegiatan keagamaan, seperti tabligh akbar, pembacaan sholawat, dzikir, tahlil, kajian sejarah Nabi, hingga kegiatan sosial.
Haji Rasyidi HY menjelaskan, Maulid Nabi Muhammad adalah momentum untuk mengenang kelahiran Nabi Muhammad SAW sekaligus mengingat kembali perjuangan, akhlak, ajaran, dan keteladanan beliau. Dalam tradisi masyarakat Muslim, peringatan ini umumnya berlangsung pada bulan Rabiul Awal dan di Indonesia sangat populer pada tanggal 12 Rabiul Awal.
Maulid atau milad dalam bahasa Arab, Haji Rasyidi HY mengatakan, memiliki makna hari lahir atau kelahiran. Peringatan tersebut berkembang sebagai tradisi umat Islam setelah masa Rasulullah SAW dan menjadi ekspresi kegembiraan serta penghormatan kepada beliau.
“Dari sudut pandang seorang Muslim, kecintaan kepada Rasulullah SAW bukan sekadar perasaan. Kecintaan tersebut seharusnya mendorong kita untuk mengenal beliau, membaca sejarah kehidupannya, memperbanyak shalawat, serta berusaha mengikuti akhlaknya,” jelasnya.
Ia juga mengutip pandangan sejumlah ulama, antara lain Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki dan Imam al-Suyuthi, yang memandang peringatan Maulid sebagai tradisi yang memiliki nilai kebaikan apabila diisi dengan kegiatan yang bermanfaat dan bernilai ibadah.
“Memaknai Maulid Nabi bukan sekadar merayakan kelahiran Rasulullah, tetapi bagaimana kita meneladani akhlak beliau dalam kehidupan sehari-hari,” jelas Haji Rasyidi HY.
Menurut mantan anggota DPRD DKI periode 2014-2019 ini, keteladanan Nabi Muhammad SAW relevan diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari hubungan sosial, ekonomi hingga kehidupan bermasyarakat dan tidak hanya menjadi kegiatan seremonial.
“Jadi Maulid Nabi Muhammad seharusnya menjadi pengingat agar kita semakin dekat dengan ajaran Rasulullah SAW dan bukan hanya menjadi kegiatan seremonial tahunan,” pungkasnya.


Post Comment