Pengamat: Prabowo Perlu Perkuat Komunikasi Publik dan Juru Bicara

SATYABERITA – Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah menilai komunikasi publik Presiden Prabowo Subianto perlu diperkuat agar pernyataan yang disampaikan kepada masyarakat tidak menimbulkan penafsiran berbeda.
Menurut Amir, pernyataan Presiden sebaiknya dilihat secara utuh dan tidak dipotong-potong, terutama di tengah perkembangan media sosial dan penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang dapat membuat sebuah pernyataan mudah disebarluaskan tanpa konteks.
“Segala sesuatu harus kita lihat dengan akal sehat. Kita harus melihat aspek positif dan negatifnya, sehingga masyarakat bisa memahami persoalan secara utuh,” ujar Amir.
Ia juga menilai kesalahan penyebutan atau angka dalam pidato Presiden tidak selalu dapat langsung dimaknai sebagai substansi kebijakan. Menurutnya, konteks penyampaian dan materi pidato perlu diperhatikan sebelum menarik kesimpulan.
Meski demikian, Amir mengatakan hal tersebut tetap menjadi bahan koreksi bagi Prabowo dalam membangun komunikasi pemerintahan.
Ia menyarankan agar Presiden memiliki juru bicara yang profesional dan menguasai persoalan kenegaraan serta kebangsaan. Menurutnya, konsistensi informasi dari lingkungan pemerintahan penting agar tidak muncul pernyataan yang berbeda-beda dari sejumlah pejabat.
“Pak Prabowo harus punya seorang juru bicara yang betul-betul profesional, menguasai masalah dalam pengelolaan kenegaraan dan kebangsaan dengan baik,” katanya.
Amir juga menyarankan agar Prabowo tidak terlalu sering menyampaikan pernyataan secara langsung di berbagai forum, melainkan menyerahkan komunikasi teknis pemerintahan kepada juru bicara yang ditunjuk.
Namun, ia menekankan bahwa Prabowo tetap perlu melakukan evaluasi terhadap cara penyampaian pesan dalam pidato-pidatonya, termasuk ketika terjadi kekeliruan angka atau pernyataan karena faktor spontanitas maupun semangat saat berbicara.
Post Comment