Workshop PPIJ di Tengah MTQ Nasional XXXI, Dorong Penguatan Keluarga Sakinah Berbasis Nilai Islam

Breaking

Workshop PPIJ di Tengah MTQ Nasional XXXI, Dorong Penguatan Keluarga Sakinah Berbasis Nilai Islam

SATYABERITA – Di sela pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional XXXI 2026 di Kota Semarang, Pusat Pengkajian dan Pengembangan Islam Jakarta (PPIJ) menggelar Workshop Konsultasi Keluarga Sakinah sebagai bagian dari kegiatan pendukung MTQ.

Kegiatan yang digagas Divisi Takmir PPIJ tersebut mengangkat tema “Menguatkan Ketahanan Keluarga Melalui Konsultasi dan Bimbingan Islami Menuju Keluarga Sakinah, Mawaddah wa Rahmah”.

Workshop berlangsung pada Minggu, 13 September 2026, di Hotel Grand Arkenso Park View, Kota Semarang, dan diikuti oleh Majelis Taklim serta komunitas Jakarta Islamic Centre (JIC).

Kegiatan ini menjadi wadah pembinaan, edukasi, sekaligus konsultasi bagi masyarakat dalam memahami berbagai persoalan kehidupan keluarga. Melalui kegiatan tersebut, peserta diajak memperkuat upaya membangun keluarga yang harmonis, sejahtera, serta berlandaskan nilai-nilai Islam.

Kepala PPIJ, KH. Muhyiddin Ishaq, turut hadir dalam kegiatan tersebut. Sejumlah narasumber juga memberikan materi, di antaranya KH. Ma’mun Al Ayyubi, Ketua DMI DKI Jakarta; KH. Ahmad Ibnu Abidin, Lc, Kepala Divisi Takmir PPIJ; serta Dr. Ir. H. Rasyidi HY, S.H., M.M., CPA., C.Med, Kepala Divisi Pengkajian, Pendidikan dan Perpustakaan PPIJ.

Diskusi dipandu oleh Dr. Marhadi Muhayar sebagai moderator.

Turut hadir dalam sesi Workshop Konsultasi Keluarga Sakinah tersebut Jhon Odius, Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta, dan H. Afiffuddien, Kepala Divisi Komunikasi dan Penyiaran PPIJ.

Pentingnya Komunikasi dalam Keluarga

Dr. Ir. H. Rasyidi HY mengatakan, workshop tersebut diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih baik kepada peserta mengenai konsep keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah sesuai dengan ajaran Islam.

“Diharapkan melalui workshop ini, peserta mendapatkan pemahaman tentang konsep keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah sesuai dengan ajaran Islam. Peserta juga didorong untuk meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya komunikasi dan kerja sama yang baik dalam kehidupan rumah tangga,” ujar Haji Rasyidi HY, dikutip Senin (21/9/2026).

Menurut Haji Rasyidi HY, salah satu kendala dalam membangun kehidupan keluarga yang Islami adalah masih minimnya pemahaman terhadap ilmu agama. Kondisi tersebut, menurut dia, dapat semakin kompleks ketika berhadapan dengan pengaruh budaya, egoisme, serta berbagai tantangan kehidupan modern.

“Kendala utama dalam membentuk kehidupan keluarga yang Islami adalah minim atau lemahnya pemahaman ilmu agama. Kemudian diperparah dengan pengaruh budaya, egoisme, dan tantangan lingkungan modern,” ujarnya.

Ia menilai pemahaman mengenai peran dan tanggung jawab masing-masing anggota keluarga juga menjadi hal penting yang perlu diperkuat sejak sebelum maupun setelah pernikahan.

“Karena minimnya pengetahuan ilmu agama dan pemahaman peran sebagai anggota keluarga, banyak pasangan menikah tanpa memahami hak dan kewajiban suami secara Islam. Konsep suami selaku pemimpin (qawwam) yang amanah dan istri yang taat perlu dipahami secara baik,” papar Rasyidi.

Konflik Rumah Tangga Perlu Dikelola Sesuai Tuntunan Islam

Selain pemahaman agama, Haji Rasyidi HY menyoroti kemampuan pasangan dalam mengelola konflik rumah tangga. Menurutnya, pasangan suami istri perlu memiliki pengetahuan mengenai cara menyelesaikan persoalan keluarga secara bijak dan sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad SAW.

“Selain itu, sebagian mereka tidak memiliki pengetahuan bagaimana cara mengelola konflik dalam rumah tangga yang sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad SAW,” jelasnya.

Haji Rasyidi HY juga menyinggung adanya benturan antara prinsip kehidupan Islami dengan budaya maupun tradisi keluarga besar. Menurutnya, kebiasaan yang berkembang di lingkungan keluarga perlu disikapi secara bijak apabila tidak sejalan dengan prinsip syariat.

“Benturan dengan budaya dan tradisi keluarga yang sering mengutamakan kebiasaan atau tradisi keluarga besar yang bertentangan dengan prinsip syariat. Kondisi ini juga menjadi kendala,” katanya.

Tekanan Ekonomi dan Materialisme

Persoalan ekonomi juga menjadi perhatian dalam membangun ketahanan keluarga. Rasyidi mengatakan tekanan finansial yang tidak dikelola dengan baik dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi keharmonisan rumah tangga.

“Tekanan ekonomi dan materialisme. Masalah finansial yang tidak dimanage dengan tawakal dan syukur kerap kali merusak keharmonisan,” jelasnya.

Ia menambahkan, kehidupan keluarga tidak semestinya hanya diukur dari pencapaian materi. Menurutnya, nilai spiritual berupa rasa syukur dan orientasi kepada keridhaan Allah juga menjadi bagian penting dalam membangun keluarga yang kokoh.

“Karena adanya kecenderungan menilai kebahagiaan rumah tangga hanya dari materi semata, bukan karena ridha Allah,” pungkasnya.

Post Comment