Eki Pitung Soroti Polemik Wadah Kebetawian: “Jangan Saling Jatuhkan, Bersaing Sehat Membuat Program untuk Betawi ”

Breaking

Eki Pitung Soroti Polemik Wadah Kebetawian: “Jangan Saling Jatuhkan, Bersaing Sehat Membuat Program untuk Betawi ”

SATYABERITA – Ketua Dewan Adat Bamus Betawi, Eki Pitung, menyoroti munculnya Lembaga Adat dan Kebudayaan Betawi (LAKB) sebagai wadah baru dalam organisasi kebetawian. Ia menyampaikan apresiasi atas lahirnya wadah tersebut, namun mengingatkan agar keberadaan organisasi baru tidak justru menambah konflik di kalangan masyarakat Betawi.

Eki mengatakan, Dewan Adat Bamus Betawi merupakan organisasi yang memiliki sejarah panjang. Menurutnya, Bamus Betawi telah berdiri sejak 1982 dan didirikan oleh para tokoh Betawi generasi terdahulu.

“Dewan Adat Bamus Betawi pimpinan Eki Pitung mengucapkan selamat kepada Lembaga Adat Kebudayaan Betawi sebagai organisasi wadah terbaru atas nama kebetawian. Namun, isinya hampir rata-rata memang bersinggungan dengan Dewan Adat Bamus Betawi yang lahir sejak 1982, zaman babe-babe kita, orang tua kita yang mendirikan,” ujar Eki, dalam keterangan tertulis, Sabtu (29/8/2026).

Ia juga menyinggung perubahan Bamus Betawi menjadi Dewan Adat Bamus Betawi setelah dirinya terpilih sebagai Ketua Umum pada 2023. Menurut Eki, transformasi tersebut dilakukan menyesuaikan dengan Undang-Undang tentang Daerah Khusus Jakarta (UU DKJ).

Eki menyebut proses pengesahan tersebut turut dihadiri Direktur Jenderal Otonomi Daerah serta Menteri Investasi dan Kepala Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, yang disebutnya sebagai salah satu tokoh Betawi sekaligus Ketua Pembina Dewan Adat Bamus Betawi.

“Bukannya kita bersyukur memiliki tokoh Betawi yang kini menjabat menteri dan Kepala Danantara, salah satu orang berpengaruh di negeri ini. Kini dibuat polemik dan dibuat baru dengan sejenisnya. Konflik baru bertambah, orang Betawi semakin bingung,” katanya.

Eki mengaku pesimistis apabila wadah-wadah baru kebetawian lebih banyak terlibat dalam kepentingan politik dibandingkan menjalankan program nyata untuk kemajuan budaya Betawi dan masyarakatnya.

“Saya kok pesimis melihat wadah baru bernama LAKB Betawi itu lebih sibuk politiknya daripada memajukan budaya dan program-program yang dirasakan langsung oleh kaum Betawi,” ujar Eki.

Menurut dia, keberadaan banyak organisasi dengan fungsi yang serupa berpotensi menimbulkan perpecahan di tengah masyarakat Betawi. Padahal, kata Eki, Betawi membutuhkan kolaborasi untuk mengembangkan kebudayaan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.

“Gimana Betawi mau maju kalau ada kader terbaik untuk Betawi, untuk Jakarta bahkan untuk Indonesia, malah dibuat tandingan?” ucapnya.

Eki menegaskan Dewan Adat Bamus Betawi yang dipimpinnya memiliki dasar hukum dan kelembagaan yang jelas. Ia menyebut organisasi tersebut memiliki Surat Keputusan Kementerian Hukum dan HAM (SK Kemenkumham), serta berada dalam kerangka regulasi UU DKJ dan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 4 Tahun 2015.

“Dewan Adat Bamus Betawi pimpinan Eki Pitung memiliki payung hukum yang jelas, mengikuti regulasi, memiliki SK Kemenkumham dan berada di bawah UU DKJ serta ada Perda Nomor 4 Tahun 2015,” katanya.

Eki juga menyampaikan keprihatinannya terhadap Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung yang menurutnya berpotensi dikelilingi pihak-pihak yang justru memperuncing perbedaan di antara sesama masyarakat Betawi.

“Saya kasihan Pak Gubernur Pramono dikelilingi orang-orang yang pragmatis, orang-orang yang jatuh-menjatuhkan sesama Betawi,” ujarnya.

Meski demikian, Eki menilai Pramono merupakan sosok yang terbuka dan memiliki pengalaman politik yang matang.

“Pak Gubernur Pramono orang baik dan terbuka. Apalagi perjalanan karier politiknya sudah sangat matang dan demokratis,” kata Eki.

Alih-alih memperbesar polemik antarorganisasi, Eki mengajak seluruh elemen kebetawian untuk berlomba menunjukkan program terbaik bagi masyarakat.

Ia bahkan mengusulkan agar program Dewan Adat Bamus Betawi dan Lembaga Adat Kebudayaan Betawi serta kebudayaan Betawi dapat dibandingkan secara terbuka pada 2026.

“Bangun Jakarta kita sama-sama. Bangun Betawi pun kita semua punya hak yang sama. Nyok deh kita adu program Dewan Adat Bamus Betawi dengan Lembaga Adat Kebudayaan Betawi,” tuturnya.

Namun, Eki memberikan satu catatan. Ia meminta organisasi lain tidak mengganggu program dan aktivitas Dewan Adat Bamus Betawi.

“Tapi jangan mengganggu Dewan Adat Bamus Betawi. Jika Dewan Adat Bamus Betawi memiliki program-program buat kebetawian, mohon saudara-saudara saya di Lembaga Adat Betawi dan kebudayaan masing-masing saja. Jangan ganggu, jangan gerecokin,” tutup Eki.

Post Comment