Taufik Tope Tolak Pemimpin Karbitan dan Titipan di Musda VI Demokrat DKI

SATYABERITA – Musyawarah Daerah (Musda) VI Partai Demokrat DKI Jakarta harus menjadi momentum strategis untuk menentukan arah dan masa depan partai, bukan sekadar menjadi arena perebutan kursi ketua.
Forum tersebut dinilai harus mampu melahirkan pemimpin yang memiliki kapasitas, loyalitas, serta komitmen kuat dalam membesarkan partai.
Hal itu disampaikan Kepala Badan Komunikasi Strategis Daerah (KabakomstraDa) Partai Demokrat DKI Jakarta, Taufik Tope Rendusara.
Menurutnya, dinamika politik dan perubahan desain Pemilu menuntut Demokrat Jakarta memiliki sosok pemimpin yang benar-benar siap menghadapi berbagai tantangan politik ke depan.
Ia menegaskan, Ketua DPD Partai Demokrat DKI Jakarta mendatang harus memiliki kecakapan kepemimpinan, loyalitas yang teruji, serta keberanian menghadapi berbagai tekanan.
Lebih dari itu kata Taufik, ketua terpilih harus mampu menjaga soliditas seluruh kader tanpa membeda-bedakan kelompok maupun kepentingan tertentu.
“Ketua DPD harus menjadi pemimpin seluruh kader, bukan representasi kelompok atau kepentingan tertentu,” tegas Taufik, dalam keterangan tertulis, Selasa (3/11/2026).
Menurutnya, Demokrat Jakarta juga harus tetap berpijak pada akar perjuangan partai, yakni nasionalisme dan nilai-nilai religius. Kedua prinsip tersebut merupakan bagian penting dari cita-cita dan perjuangan yang selama ini dibangun oleh Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Taufik juga mengingatkan agar proses pemilihan kepemimpinan dalam Musda VI tidak melahirkan sosok yang hanya mengandalkan dukungan sesaat atau kepentingan kelompok tertentu.
Ia menyebut, kader Demokrat Jakarta membutuhkan pemimpin yang tumbuh melalui proses kaderisasi, ditempa oleh perjalanan perjuangan partai, serta memiliki rekam jejak loyalitas dan kapasitas yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Pesan kader jelas: kami menolak pemimpin karbitan dan titipan. Demokrat Jakarta membutuhkan pemimpin yang lahir dari kaderisasi, ditempa oleh perjuangan, dan teruji loyalitas serta kapasitasnya,” ujarnya.
Lebih lanjut, Taufik menilai keberhasilan Musda VI tidak semestinya hanya diukur dari siapa yang mampu memenangkan kontestasi dalam forum tersebut.
Namun, yang jauh lebih penting adalah kemampuan pemimpin terpilih dalam membangun konsolidasi organisasi, menjaga persatuan kader, serta memperkuat eksistensi Partai Demokrat di Jakarta.
“Musda VI bukan tentang siapa yang paling kuat memenangkan forum, tetapi siapa yang paling siap konsolidasi, menjaga, dan membesarkan Demokrat Jakarta,” pungkasnya.
Taufik berharap Musda VI menjadi titik awal penguatan organisasi dan konsolidasi menyeluruh bagi Partai Demokrat DKI Jakarta dalam menghadapi tantangan politik serta kontestasi Pemilu mendatang. (pot)



Post Comment