Abang None Jakarta 2026 Dikritik, LAKB Soroti Representasi Identitas Budaya Betawi

SATYABERITA – Ajang Pemilihan Abang dan None Jakarta 2026 menuai sorotan dari sejumlah tokoh dan pemerhati budaya Betawi. Kritik terutama diarahkan pada aspek representasi nilai dan identitas budaya Betawi dalam ajang yang selama ini dipandang memiliki keterkaitan erat dengan citra dan kebudayaan Jakarta.
Wakil Ketua Lembaga Adat dan Kebudayaan Betawi (LAKB), Riano P. Ahmad, mengatakan terdapat kekhawatiran bahwa penyelenggaraan Abang None Jakarta 2026 belum sepenuhnya mencerminkan karakter budaya Betawi yang selama ini menjadi salah satu akar kebudayaan Jakarta.
Menurut Riano, persoalan tersebut tidak semata-mata menyangkut siapa yang terpilih sebagai Abang dan None Jakarta, melainkan lebih jauh berkaitan dengan konsep, orientasi, serta indikator yang digunakan dalam proses pemilihan.
“Yang perlu dilihat bukan hanya hasil akhirnya, tetapi bagaimana nilai-nilai kebetawian itu ditempatkan sejak proses perencanaan, seleksi, pembekalan hingga penilaian,” kata Riano, saat dihubungi, Selasa (22/9/2026).
Ia menilai terdapat nilai-nilai fundamental dalam kebudayaan Betawi yang semestinya mendapatkan ruang lebih kuat dalam ajang tersebut. Salah satunya adalah prinsip yang dikenal dalam kehidupan masyarakat Betawi, yakni Agama, Adab, dan Adat.
Riano menyebut tiga unsur tersebut merupakan bagian penting dari marwah dan jati diri masyarakat Betawi. Karena itu, menurut dia, representasi Abang None Jakarta idealnya tidak hanya dilihat dari kemampuan komunikasi, penampilan, wawasan, maupun kemampuan mempromosikan Jakarta, tetapi juga dari pemahaman terhadap nilai dan akar budaya Betawi.
“Bagi masyarakat Betawi, agama, adab dan adat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan dan identitas kebudayaan. Karena itu, nilai-nilai tersebut semestinya juga tercermin dalam sebuah ajang yang membawa nama budaya Jakarta,” ujarnya.

Untuk diketahui, sorotan ini muncul setelah Herve Pierre Sidarta dari Jakarta Selatan terpilih sebagai Abang Jakarta 2026, sedangkan Citra dari Jakarta Timur dinobatkan sebagai None Jakarta 2026 dalam malam final di Ciputra Artpreneur, Jakarta Selatan, Jumat (18/9/2026).
Pemilihan tersebut diikuti 36 finalis yang berasal dari lima kota administrasi dan Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyebut para finalis telah menjalani rangkaian seleksi dan pembekalan sebelum memasuki malam final.
Riano menegaskan, kritik yang disampaikan sejumlah tokoh Betawi bukan dimaksudkan untuk mempersoalkan kapasitas individu para pemenang maupun finalis.
Menurutnya, yang menjadi perhatian adalah bagaimana ajang Abang None Jakarta dapat menjalankan fungsi sebagai representasi Jakarta sekaligus tetap menjaga akar budaya Betawi.
Apalagi, Pemprov DKI Jakarta sendiri sejak awal menyatakan bahwa Abang None bukan sekadar kompetisi, melainkan bagian dari upaya melestarikan budaya Betawi dan menyiapkan generasi muda sebagai duta budaya Jakarta.
Karena itu, menurut Riano yang juga duduk sebagai anggota DPRD DKI ini, terdapat ruang evaluasi agar visi tersebut benar-benar selaras dengan akar kebudayaan Betawi.
Sejumlah tokoh dan lembaga Betawi, kata Riano, mendorong Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap konsep penyelenggaraan Abang None Jakarta.
Evaluasi tersebut mencakup konsep acara, materi pembekalan, mekanisme seleksi hingga kriteria penilaian yang digunakan dalam menentukan pemenang.
Selain itu, keterlibatan ulama, budayawan, serta lembaga adat Betawi dinilai perlu diperkuat sejak tahap awal penyusunan konsep.
“Kalau memang Abang None diposisikan sebagai duta budaya dan wajah Jakarta, maka unsur-unsur yang memahami secara mendalam mengenai adat dan kebudayaan Betawi perlu dilibatkan sejak awal, bukan hanya ketika acara sudah berjalan,” ujar Riano.
Menurut Riano yang juga Ketua umum Bamus Betawi ini, pelibatan tersebut diperlukan agar nilai-nilai budaya Betawi tidak berhenti pada penggunaan busana, bahasa, kesenian, kuliner, atau simbol-simbol budaya semata.
“Lebih dari itu, nilai kebudayaan diharapkan dapat dipahami sebagai karakter dan sikap yang melekat pada sosok yang menjadi representasi Jakarta,” pungkasnya. (pot)
Post Comment