Hikmah Isra Mi’raj, Haji Rasyidi: Momentum Perkuat Aqidah, Shalat, dan Tradisi Ilmu Umat

Breaking

Hikmah Isra Mi’raj, Haji Rasyidi: Momentum Perkuat Aqidah, Shalat, dan Tradisi Ilmu Umat

SATYABERITA – Peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW menyimpan banyak hikmah dan pelajaran penting bagi umat Islam, khususnya dalam memperkuat aqidah, ibadah, akhlak, hingga penguasaan ilmu pengetahuan.

Hal ini disampaikan Kepala Divisi Pengkajian dan Pendidikan PPIJ, H. Rasyidi H.Y, dalam keterangannya pada Jumat (16/1/2026).
Isra’ Mi’raj merupakan perjalanan agung Rasulullah SAW yang terjadi hanya dalam satu malam.

Isra’ adalah perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjid al-Haram di Mekkah menuju Masjid al-Aqsha di Al-Quds, Palestina. Sementara Mi’raj adalah perjalanan naiknya Rasulullah SAW menembus lapisan langit hingga batas tertinggi yang tidak dapat dijangkau oleh makhluk mana pun, baik malaikat, jin, maupun manusia.

Peristiwa luar biasa ini, sebagaimana dijelaskan oleh Said Muhammad Ramadhan al-Buthy dalam Fiqh al-Sîrah al-Nabawiyah, menjadi salah satu mukjizat terbesar dalam sejarah Islam. Tahun ini, umat Islam kembali memperingati Isra’ Mi’raj pada 1447 Hijriah, yang bertepatan dengan Jumat, 16 Januari 2026.

Rasyidi mengingatkan bahwa ketika Rasulullah SAW menceritakan peristiwa Isra’ Mi’raj kepada penduduk Mekkah, tidak sedikit yang menolaknya. Abu Jahal dan para pengikutnya justru menertawakan dan mengolok-olok Nabi, karena menganggap perjalanan tersebut tidak masuk akal.

Namun, sikap berbeda ditunjukkan oleh Abu Bakar ash-Shiddiq. Tanpa ragu, ia membenarkan apa yang disampaikan Rasulullah SAW. “Jika memang benar Muhammad yang mengatakannya, maka sungguh dia telah berkata benar,” ujar Abu Bakar kala itu.

Atas keyakinan dan keimanannya yang teguh, ia pun mendapat gelar al-Shiddiq, sebagaimana dicatat dalam Nur al-Yaqin karya Muhammad al-Khudari.

Menurut Rasyidi, keteladanan Abu Bakar inilah yang harus dilahirkan oleh para pendidik Muslim saat ini. Isra’ Mi’raj, kata dia, merupakan momentum penting untuk memperkuat aqidah umat dan melahirkan manusia beradab, manusia yang menggunakan akalnya secara benar, tanpa terjebak pada sikap “sok kritis” yang justru melemahkan iman.

“Bukan manusia yang kehilangan keyakinan karena terlalu mengagungkan akal yang lemah, atau bertaqlid kepada pandangan Barat-sekular yang bertentangan dengan Islamic Worldview,” tegas Rasyidi, yang akrab disapa Kiai.

Selain aqidah, Isra’ Mi’raj juga sarat dengan pendidikan ibadah, khususnya shalat. Shalat, kata Rasyidi, adalah hadiah langsung dari Allah SWT kepada umat Islam pada malam Isra’ Mi’raj. Karena itu, shalat disebut sebagai Mi’raj-nya orang-orang mukmin dan menjadi tolok ukur kualitas keimanan seseorang.

“Ibadah shalat harus menjadi bahan evaluasi bersama. Apakah shalat kita sudah sesuai syarat, rukun, dan adabnya? Apakah kita sudah istiqamah berjamaah? Apakah keluarga kita telah mendirikan shalat?” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa Allah SWT memerintahkan umat Islam untuk memerintahkan keluarga mendirikan shalat dan bersabar dalam melaksanakannya (QS Thaha: 132). Rasulullah SAW juga memerintahkan para orang tua agar mendidik anak-anaknya shalat sejak usia tujuh tahun, bahkan memberi sanksi mendidik ketika usia sepuluh tahun jika meninggalkannya.

“Atas dasar itu, para ulama seperti Imam al-Ghazali menjadikan shalat sebagai kurikulum inti pendidikan anak,” jelas Rasyidi, mengutip Ihyâ ‘Ulûmiddîn.

Ia menegaskan bahwa perhatian terhadap shalat harus lebih diutamakan dibanding sekadar kemampuan membaca dan menulis.

Menurutnya, orang tua seharusnya lebih khawatir jika anak-anaknya sudah dewasa atau kuliah tetapi belum mendirikan shalat, karena anak adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

Buah dari shalat yang benar, lanjut Rasyidi, adalah lahirnya akhlak mulia. Allah SWT menegaskan bahwa shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar (QS al-Ankabut: 45).

Di dalam shalat terkandung pendidikan tentang kebersihan, kedisiplinan waktu, kepemimpinan, kerendahan hati, persatuan, serta penyebaran kedamaian.

Tak kalah penting, Isra’ Mi’raj juga memberi isyarat kuat tentang pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Umat Islam, kata Rasyidi, harus membangkitkan kembali tradisi ilmu, baik ilmu syariah maupun ilmu umum, sebagai syarat bangkitnya peradaban.

“Umat Islam merindukan lahirnya ulama sekaligus ilmuwan seperti Ibn Haytham, al-Biruni, dan al-Khawarizmi. Mereka bukan tokoh yang turun dari langit, melainkan lahir dari sistem pendidikan Islam yang terintegrasi antara ilmu dan adab,” ujar mantan anggota DPRD DKI periode 2019-2024 ini.

Menutup keterangannya, Rasyidi menegaskan bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj memang tidak akan terulang. Namun semangatnya harus terus dijaga dan dihidupkan, terutama dengan memanfaatkan waktu, khususnya waktu malam untuk ilmu dan amal.

“Dengan itulah peradaban Islam bisa kembali mi’raj, mengungguli peradaban lainnya. Wallâhu a’lam bi al-shawâb,” pungkasnya. (pot)

Post Comment