Fauzi Bowo Luncurkan Buku Perjalanan Penataan Ruang Jakarta 1965-2012, Jadi Referensi Pembangunan Ibu Kota

SATYABERITA – Gubernur DKI Jakarta periode 2007-2012, Fauzi Bowo, bersama tim penulis menggelar diseminasi awal atau soft launching buku berjudul Perjalanan Penataan Ruang Ibu Kota Jakarta 1965-2012 di Theater I, Universitas Pembangunan Jaya (UPJ), Bintaro Jaya, Tangerang Selatan, Senin (2/11/2026).
Buku tersebut merangkum perjalanan panjang penataan ruang Jakarta selama hampir setengah abad, mulai dari dinamika perencanaan kota, berbagai tantangan pembangunan, hingga transformasi tata ruang sejak penetapan Jakarta sebagai Ibu Kota Negara sampai 2012.
Fauzi Bowo yang akrab disapa Foke mengatakan, buku ini tidak sekadar menjadi dokumentasi sejarah, tetapi juga refleksi sekaligus sumber pembelajaran bagi generasi penerus dalam memahami arah dan proses pembangunan Jakarta.
“Buku ini bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan sebuah refleksi dan pembelajaran berharga bagi generasi penerus. Menata Jakarta adalah proses panjang yang mempertemukan aspek teknokratis, politik, dan pemenuhan kebutuhan warga,” ujar Foke.
Ia menjelaskan, buku tersebut mengulas berbagai arsip penting dan cetak biru perencanaan kota yang disusun secara kronologis. Sejumlah isu strategis turut dibahas, mulai dari penanganan banjir, transportasi makro, pembangunan infrastruktur perkotaan, pengaturan bangunan bertingkat, hingga pengendalian pertanahan dengan tetap memperhatikan pelestarian peninggalan sejarah.
Ketua Dewan Adat Lembaga Adat dan Kebudayaan Betawi (LAKB) itu menambahkan, pembahasan dalam buku juga menggambarkan kompleksitas pengelolaan kota dalam lingkup lokal, regional, maupun nasional.
Menurutnya, dokumentasi perjalanan tata ruang tersebut diharapkan dapat menjadi panduan strategis bagi para pengambil kebijakan dan perencana kota, khususnya dalam menghadapi tantangan pengelolaan kawasan megapolitan pada masa mendatang.
Foke mengungkapkan, penyusunan buku ini berangkat dari pemikiran bersama para perencana kota bahwa pembangunan Jakarta tidak boleh terputus akibat pergantian kepemimpinan. Sebaliknya, perencanaan kota harus dilakukan secara konsisten, berkesinambungan, dan berkelanjutan.
“Gubernur boleh berganti, tetapi Kota Jakarta harus tetap dirancang secara konsisten dan berkesinambungan. Kami bersama kawan-kawan perencana, baik yang masih ada maupun yang sudah mendahului kami, mencoba merangkum pengalaman-pengalaman tersebut ke dalam sebuah buku perjalanan tata ruang,” tuturnya.
Ia menjelaskan, pemilihan tahun 1965 sebagai awal pembahasan didasarkan pada penegasan kedudukan Jakarta secara yuridis formal sebagai Ibu Kota Negara serta dimulainya rencana induk atau master plan tata ruang pertama untuk periode 1965-1985.
Sementara itu, tahun 2012 dipilih sebagai batas akhir pembahasan karena sebagian besar tim penyusun dan aparatur sipil negara (ASN) yang terlibat dalam perencanaan kota pada periode tersebut telah memasuki masa purnabakti.
Lebih dari sekadar merekam perjalanan sejarah, buku ini juga menyajikan evaluasi berdasarkan data dan pengalaman masa lalu. Materi tersebut diharapkan menjadi basis pengetahuan bagi pembuat kebijakan dan perencana kota dalam merumuskan pembangunan Jakarta ke depan.
Foke menegaskan, perencanaan tata ruang harus terintegrasi secara komprehensif dengan berbagai sektor, mulai dari transportasi massal, lingkungan hidup, hingga penyediaan sarana dan prasarana umum.
Keterpaduan tersebut dinilai penting untuk menjawab tantangan transformasi Jakarta menuju kota global yang berdaya saing, tanpa mengesampingkan kualitas hidup masyarakat.
“Warga adalah komponen utama kehidupan kota. Jika warga merasa sejahtera, aman, dan tenteram, itulah tujuan utama dari pembangunan. Kami berharap pembangunan Jakarta ke depan tidak hanya bertumpu pada pemerintah semata, tetapi juga melibatkan seluruh warga yang merasa memiliki dan mencintai kotanya,” ungkapnya.
Sementara itu, salah seorang penulis buku, Bayu Wirawan, berharap karya tersebut dapat menjadi ruang pembelajaran bersama bagi masyarakat dan pemerintah dalam memahami perjalanan penataan ruang Jakarta.
Menurut Bayu, buku ini disusun untuk membantu pembaca memahami akar sejarah dan landasan perkembangan tata ruang Jakarta. Dengan memahami perjalanan tersebut, masyarakat diharapkan dapat lebih bijak dalam menyikapi kebijakan pembangunan baru, sekaligus mencegah terulangnya persoalan yang pernah terjadi pada masa lalu.
“Tata ruang kota tidak dapat berjalan optimal jika hanya mengandalkan pemerintah tanpa keterlibatan masyarakat. Untuk itu, buku ini juga diharapkan dapat menjadi titik temu untuk menyelaraskan kebutuhan warga dengan kebijakan yang dijalankan oleh pemerintah demi kemajuan Jakarta,” pungkasnya.



Post Comment