Anies Baswedan Kunjungi Celah Celah Langit Bandung, Kenang Perjalanan Seni Iman Soleh Merawat Budaya

SATYABERITA – Ada tempat yang bukan sekadar menjadi tujuan kunjungan, melainkan selalu menghadirkan rasa pulang. Bagi Anies Baswedan, tempat itu adalah Celah Celah Langit (CCL) di kawasan Ledeng, Kota Bandung. Di ruang seni yang tumbuh dari halaman rumah sederhana tersebut, Anies kembali bertemu dengan Iman Soleh, seniman yang selama puluhan tahun mendedikasikan hidupnya untuk merawat puisi, teater, dan kebudayaan.
Kunjungan itu menjadi pertemuan penuh kenangan. Anies mengingat kembali perkenalannya dengan Iman Soleh belasan tahun silam melalui sastrawan Taufiq Ismail. Saat itu, Taufiq memperkenalkan Iman sebagai salah satu pembaca puisi terbaik.
Anies mengaku langsung memahami alasan di balik pujian tersebut setelah mendengar Iman melantunkan puisi. Kini, bertahun-tahun kemudian, ia kembali menyaksikan semangat yang sama tumbuh melalui penampilan generasi muda di panggung CCL.
Dalam unggahan di akun Facebook-nya, Senin (2/11/2026), Anies menggambarkan suasana kunjungannya ke rumah sekaligus ruang kebudayaan milik Iman di Ledeng.
“Kemarin kami kembali ke rumahnya di Ledeng, Bandung, ke halaman yang ia ubah jadi panggung Celah Celah Langit. Pohon-pohon dililit merah putih, anak-anak muda duduk di undakan semen, dan Kang Iman menunjuk ke sana kemari sambil bercerita, seolah setiap sudut punya kisahnya sendiri,” tulis Anies.
Suasana panggung terbuka CCL terasa hangat dan akrab. Pepohonan dihiasi ornamen merah putih, sementara penonton duduk di undakan semen yang menghadap ruang pertunjukan.
Sejumlah anak muda tampil membacakan puisi. Seorang perempuan berjilbab putih melantunkan bait demi bait dengan penuh penghayatan. Di kesempatan lain, seorang pemuda berbaju batik berdiri membawa lembar naskah, menyuarakan puisinya di hadapan penonton yang menyimak dengan saksama.
Iman Soleh terlihat menikmati setiap penampilan. Sesekali ia tertawa, kemudian terdiam menyaksikan keberanian anak-anak muda mengekspresikan pikiran dan perasaan melalui puisi.
Bagi Anies, kebahagiaan Iman mengingatkannya pada seorang guru yang menyaksikan murid-muridnya mulai menemukan suara dan jati diri. CCL, menurutnya, bukan sekadar panggung pertunjukan, melainkan ruang belajar yang membuka kesempatan bagi generasi muda untuk tumbuh melalui seni.
Celah Celah Langit Ledeng didirikan oleh Iman Soleh pada 22 Mei 1998. Berlokasi tidak jauh dari Terminal Ledeng, Bandung, ruang kebudayaan ini berdiri di atas tanah seluas 820 meter persegi milik Iman.
Dengan konsep menyerupai amfiteater, CCL mampu menampung sekitar 400 penonton. Berawal dari halaman rumah, tempat ini berkembang menjadi ruang perjumpaan antara seniman dan masyarakat.
Keistimewaan CCL terletak pada pendekatan keseniannya yang dekat dengan kehidupan warga. Proses penciptaan karya teater tidak hanya berangkat dari imajinasi, tetapi juga melalui penelitian, diskusi, dan penggarapan naskah secara bersama-sama.
Masyarakat pun tidak ditempatkan semata-mata sebagai penonton. Mereka memiliki kesempatan untuk terlibat dalam proses kreatif dan menyampaikan persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Seiring waktu, aktivitas CCL berkembang melampaui seni teater. Komunitas ini juga merambah dunia sastra, seni rupa, musik, dan tari, serta membuka ruang kolaborasi dengan seniman dari berbagai negara.
Konsistensi dalam merawat kebudayaan tersebut mendapat pengakuan pada 2018. CCL menerima Anugerah Kebudayaan kategori Komunitas dari Gubernur Jawa Barat.
Dalam pertemuan tersebut, Anies juga menyoroti pentingnya keberadaan ruang-ruang kebudayaan seperti CCL di tengah perubahan zaman.
Baginya, seni dan tradisi bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan bagian penting dari kehidupan masyarakat yang menyimpan nilai toleransi, kebersamaan, dan kepercayaan.
Ketika kepercayaan terhadap berbagai hal terasa semakin rapuh, kebudayaan dapat menjadi salah satu jalan untuk membangun kembali hubungan antarmanusia. Dimulai dari hubungan dengan diri sendiri, tetangga, hingga sesama warga bangsa.
Dari ruang sederhana di Ledeng, Iman Soleh telah menunjukkan bahwa mencintai Indonesia tidak selalu harus diwujudkan melalui tindakan besar. Menjaga kebersamaan, saling percaya, serta memberikan ruang bagi orang lain untuk berekspresi merupakan bagian dari upaya merawat kehidupan berbangsa.
Momen paling mengharukan terjadi menjelang Anies berpamitan. Ia mendekat kepada Iman Soleh yang duduk di kursi roda, lalu mencium kening sang seniman.
Dalam sebuah foto, keduanya terlihat saling menggenggam tangan. Sebuah gestur sederhana yang menggambarkan kehangatan dan penghormatan setelah perjalanan panjang Iman dalam dunia kesenian.
Anies pun menyampaikan rasa terima kasih kepada Iman yang selama puluhan tahun konsisten menjaga ruang seni di kawasan Ledeng.
Di tengah keterbatasan ruang dan perubahan zaman, CCL tetap menjadi tempat bagi puisi untuk dilantunkan, gagasan untuk dipertemukan, dan generasi muda untuk menemukan keberanian menyuarakan isi hati.
Dari sebuah halaman rumah di sudut Bandung, Iman Soleh telah membuktikan bahwa kebudayaan tidak selalu membutuhkan gedung megah. Terkadang, ia cukup tumbuh dari ruang sederhana yang dirawat dengan ketulusan.
Sebuah panggung kecil yang menyediakan ruang bagi manusia untuk pulang, saling mendengar, dan kembali percaya.



Post Comment