Hari Asyura 10 Muharram, Haji Rasyidi HY: Jejak Mukjizat Para Nabi dan Momentum Memperkuat Keimanan

Breaking

Hari Asyura 10 Muharram, Haji Rasyidi HY: Jejak Mukjizat Para Nabi dan Momentum Memperkuat Keimanan

SATYABERITA – Bulan Muharram selalu menjadi momen istimewa bagi umat Islam sebagai penanda awal tahun baru Hijriah. Di antara hari-hari yang dimuliakan pada bulan tersebut, tanggal 10 Muharram atau yang dikenal sebagai Hari Asyura memiliki keutamaan tersendiri karena sarat dengan sejarah, hikmah, dan anjuran ibadah.

Kepala Divisi Pengkajian dan Pendidikan Jakarta Islamic Centre (JIC), Dr. Ir. H. Rasyidi HY, SH., SH.I., MM., MA., CPA, C.Med, menjelaskan bahwa Hari Asyura bukan sekadar identik dengan puasa sunnah, tetapi juga menjadi momentum untuk mengenang berbagai peristiwa besar yang dialami para nabi sebagai bukti pertolongan Allah SWT kepada hamba-Nya.

“10 Muharram merupakan hari yang memiliki makna mendalam karena banyak peristiwa penting dalam sejarah kenabian yang dikaitkan dengan tanggal tersebut. Dari sini umat Islam dapat mengambil pelajaran tentang kesabaran, keimanan, dan keyakinan terhadap pertolongan Allah,” ujar H. Rasyidi HY dalam keterangan tertulis, Jumat (26/6/2026).

Menurutnya, salah satu peristiwa paling terkenal adalah penyelamatan Nabi Musa AS dan Bani Israil dari kejaran Firaun melalui mukjizat terbelahnya Laut Merah. Peristiwa ini menjadi simbol kemenangan kebenaran atas kezaliman.

Selain itu, Hari Asyura juga dikaitkan dengan berlabuhnya bahtera Nabi Nuh AS setelah banjir besar, keselamatan Nabi Yunus AS dari perut ikan, kesembuhan Nabi Ayyub AS dari penyakit yang dideritanya, hingga diterimanya taubat Nabi Adam AS.

“Berbagai kisah tersebut menunjukkan bahwa pertolongan Allah selalu hadir bagi hamba-Nya yang beriman, bersabar, dan terus berusaha mendekatkan diri kepada-Nya,” kata H. Rasyidi HY.

Lebih lanjut mantan anggota DPRD DKI periode 2014-2019 ini menjelaskan, dalam ajaran Islam, Rasulullah SAW juga menganjurkan umatnya untuk melaksanakan Puasa Asyura pada 10 Muharram.

Bahkan, kata pria yang murah senyum ini, untuk menyelisihi tradisi kaum Yahudi yang juga berpuasa pada hari tersebut, Rasulullah menganjurkan menambah puasa pada 9 Muharram atau yang dikenal dengan Puasa Tasu’a.

“Rasulullah SAW bersabda, “Puasa hari Asyura menghapus dosa setahun yang lalu (HR Muslim),” terangnya.

Selain berpuasa, umat Islam dianjurkan memperbanyak amalan saleh seperti bersedekah, menyantuni anak yatim, membaca Al-Qur’an, memperbanyak zikir dan doa, serta mempererat silaturahmi.

H Rasyidi HY menegaskan, Hari Asyura hendaknya dijadikan sebagai sarana refleksi diri untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan.

“Melalui peringatan Hari Asyura, kita diajak untuk selalu bersyukur, tidak mudah menyerah menghadapi ujian, dan yakin bahwa setiap kesulitan akan disertai jalan keluar dari Allah SWT,” tuturnya.

“Jadi momentum 10 Muharram dapat dijadikan pengingat bahwa sejarah para nabi bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga menjadi inspirasi dalam menjalani kehidupan sehari-hari dengan penuh kesabaran, optimisme, dan keimanan,” pungkasnya.

Post Comment