Kenapa Ide Cemerlang Sering Muncul di Kamar Mandi? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Breaking

Kenapa Ide Cemerlang Sering Muncul di Kamar Mandi? Ini Penjelasan Ilmiahnya

SATYABERITA – Tak sedikit orang mengaku justru mendapatkan ide cemerlang saat berada di kamar mandi atau toilet. Mulai dari solusi pekerjaan hingga inspirasi kreatif, semuanya tiba-tiba muncul di tengah aktivitas mandi.

Fenomena yang kerap disebut sebagai “ide kamar mandi” ini ternyata bukan sekadar kebetulan, melainkan ada penjelasan ilmiah di baliknya.

Dokter bedah asal Inggris, dr Karan Rajan, menjelaskan bahwa saat mandi, otak berada dalam kondisi minim rangsangan eksternal. Tidak ada notifikasi ponsel, percakapan, atau tuntutan berpikir kompleks. Kondisi ini justru mengaktifkan bagian otak yang disebut default mode network.

“Jaringan ini sangat berperan dalam kreativitas, refleksi diri, dan munculnya wawasan baru. Ketika stimulasi rendah, otak dipaksa mengisi kekosongan. Yang muncul bisa berupa pemecahan masalah, bukan kecemasan eksistensial atau suara-suara khayalan,” ujar dr Rajan, dikutip dari Hindustan Times.

Mekanisme otak yang sama juga menjelaskan fenomena lain yang kerap dialami banyak orang saat mandi, yakni auditory pareidolia atau ilusi pendengaran.

Gejalanya beragam, mulai dari merasa mendengar ketukan pintu, bunyi notifikasi ponsel, hingga suara seseorang memanggil nama di tengah gemericik air.

Meski kerap dikaitkan dengan hal mistis, dr Rajan menegaskan bahwa fenomena ini bukan tanda gangguan mental. Secara biologis, otak manusia memang dirancang untuk mendeteksi pola sebagai mekanisme bertahan hidup.

Ketika mendengar suara monoton dan berulang seperti gemericik air atau white noise, otak tidak serta-merta mengabaikannya. Sebaliknya, otak akan menganggap suara tersebut sebagai “gangguan sistem” dan mulai memindai ingatan serta pengalaman masa lalu untuk mencari pola suara yang terasa familier.

“Otakmu mengisi kekosongan dengan apa yang ia harapkan untuk didengar, bukan dengan apa yang sebenarnya ada. Singkatnya, otak sedang memanipulasi dirinya sendiri,” jelas dr Rajan.

Fenomena ini mirip dengan pareidolia visual, yaitu kecenderungan manusia melihat bentuk wajah pada awan atau benda mati. Bedanya, pada pareidolia auditorik, ilusi terasa lebih nyata karena otak sejak awal mempercayai suara tersebut benar-benar ada.

Menariknya, kondisi mental semacam ini tidak hanya terjadi di kamar mandi. Berbagai aktivitas monoton dengan latar suara konstan juga bisa memicu respons serupa.

Menyedot debu, menyikat gigi, mencuci piring, hingga menyetir di jalan tol yang lurus dan panjang dapat memberi ruang bagi otak untuk mengembara.

Monotonitas Justru Kunci Kreativitas
Pada akhirnya, otak manusia memang membutuhkan momen monoton untuk membentuk koneksi saraf yang tak terduga.
Menurut dr Rajan, kebosanan justru bisa menjadi pintu masuk bagi kreativitas.

“Otak membutuhkan monotonitas agar bisa mengembara dan membentuk koneksi saraf yang tidak terduga. Jadi, jika kita ingin membuka lebih banyak kreativitas, mungkin bisa mencoba melakukan sesuatu yang sangat membosankan terlebih dahulu,” pungkasnya.

Post Comment