Gubernur Pramono Didampingi Fauzi Bowo Hadiri Tradisi Ngaduk Dodol Betawi di Setu Babakan

Breaking

Gubernur Pramono Didampingi Fauzi Bowo Hadiri Tradisi Ngaduk Dodol Betawi di Setu Babakan

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung bersama Ketua Dewan Adat MKB Fauzi Bowo mencoba mengaduk dodol.

SATYABERITA – Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menghadiri tradisi Ngaduk Dodol Betawi yang digelar di Dodol Nyak Mai, Jalan Moch Kahfi II, Kelurahan Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan, Jumat (6/3/2026).

Dalam kegiatan yang berlangsung di kawasan Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan tersebut, Pramono turut merasakan langsung proses pembuatan dodol dengan mengaduk dodol bersama para perajin.

Ia juga didampingi Ketua Dewan Adat Majelis Kaum Betawi (MKB) Fauzi Bowo sekaligus mantan Gubernur DKI Jakarta periode 2007–2012, Fauzi Bowo, yang akrab disapa Bang Foke.

Pramono mengaku baru pertama kali merasakan langsung proses pembuatan dodol Betawi. Menurutnya, proses tersebut membutuhkan tenaga dan kesabaran.

“Barusan saya diundang sekaligus mengaduk dodol dan rupanya tidak ringan. Saya terkesan sekali karena bagi warga Betawi, dodol ini sebenarnya bagian dari konsep gotong royong,” kata Pramono di lokasi, Jumat (6/3).

Dodol Nyak Mai sendiri merupakan usaha kuliner tradisional yang telah dikelola secara turun-temurun oleh masyarakat di kawasan Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan.
Produk dodol ini dikenal memiliki cita rasa khas dan menjadi salah satu ikon kuliner Betawi.

Pramono mengaku sudah beberapa kali mencicipi dodol Nyak Mai dan menilai rasanya sangat khas. Ia bahkan kerap membawanya sebagai oleh-oleh untuk keluarga.

“Saya sudah pernah mencoba dodol Nyak Mai ini, memang luar biasa enak. Kenyalnya pas dan manisnya juga tidak berlebihan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Pramono menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan terus mendorong pengembangan usaha kuliner tradisional Betawi, termasuk dodol Nyak Mai.

Menurutnya, pengembangan tersebut dapat dilakukan melalui modernisasi peralatan produksi agar lebih efisien, namun tetap mempertahankan nilai tradisional yang menjadi ciri khas kuliner Betawi.

“Harapannya dilakukan modernisasi, tetapi jangan sampai yang tradisionalnya hilang. Justru di situlah kekhasan dan keunggulannya,” pungkasnya. (pot)

Post Comment