Rp100 Miliar Bongkar Tiang Monorel: Keberpihakan Palsu terhadap Warga Miskin

Breaking

Rp100 Miliar Bongkar Tiang Monorel: Keberpihakan Palsu terhadap Warga Miskin

Oleh: Taufik Tope Rendusara
Kepala Bakomstra DPD Demokrat Jakarta

SATYABERITA – Anggaran Rp100 miliar untuk membongkar tiang monorel adalah tamparan keras bagi warga miskin Jakarta. Di saat rakyat kecil berjuang memenuhi kebutuhan paling dasar yaitu air bersih, hunian layak, dan transportasi murah. Pemprov justru menghamburkan uang publik untuk membongkar besi dan beton peninggalan proyek gagal.

Kebijakan ini mencerminkan arah pembangunan yang salah kaprah. Pemerintah lebih sibuk mengurusi wajah kota ketimbang kehidupan warganya. Pembongkaran tiang monorel tidak menurunkan harga kebutuhan pokok, tidak menambah akses layanan dasar, dan tidak memperbaiki kesejahteraan warga miskin. Yang dibongkar bukan hanya tiang monorel, tetapi juga akal sehat dalam mengelola anggaran publik.

Kami menilai klaim keberpihakan Pramono kepada warga miskin hanya jargon kosong. Keberpihakan sejati diukur dari keberanian memindahkan anggaran ke sektor yang langsung menyentuh rakyat kecil, bukan dari proyek mahal yang manfaatnya tidak dirasakan warga. Rp100 miliar adalah uang rakyat, dan setiap rupiahnya seharusnya dipertanggungjawabkan untuk kepentingan sosial, bukan kosmetika kota.

Lebih ironis, kebijakan ini seolah ingin menutup kegagalan masa lalu dengan biaya baru yang kembali dibebankan kepada publik. Warga miskin dipaksa membayar dua kali: pertama saat proyek monorel mangkrak, kedua saat pemerintah memutuskan membongkarnya dengan dana fantastis.

Kami menuntut transparansi penuh, audit anggaran, dan penghentian kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat. Jika pemerintah tetap memaksakan pembongkaran tanpa manfaat sosial yang jelas, maka publik berhak menyebut keberpihakan kepada warga miskin sebagai lip service. Jakarta tidak butuh proyek simbolik, Jakarta butuh keadilan sosial.

Post Comment